Krisis air bersih yang melanda Kemesu, Rongkop, memaksa warga menjual sebagian ternak untuk membeli pasokan air karena sumber air terbatas dan distribusi PDAM belum mencukupi.
GUNUNGKIDUL – Krisis air bersih yang kembali melanda wilayah Kemesu, Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), memaksa sebagian warga mengurangi aset ternaknya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Penjualan ayam hingga kambing menjadi cara yang ditempuh warga agar dapat membeli pasokan air bersih selama musim kemarau.
Salah seorang warga Kemesu, Sutopo, mengatakan sebanyak 68 kepala keluarga (KK) di wilayahnya hampir setiap tahun menghadapi kekeringan. Pada 2026, kesulitan memperoleh air bersih mulai dirasakan sejak April hingga Mei.”Kami memang sudah bertahun-tahun kesulitan dalam hal air tersebut,” kata Sutopo saat dihubungi, Selasa (28/07/2026), sebagaimana dilansir CNN Indonesia, Selasa (28/07/2026).
Menurut Sutopo, warga tidak memiliki sumber air alami dan selama ini hanya mengandalkan penampungan air hujan (PAH). Sementara itu, jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) yang tersedia hanya mengalir sekitar satu kali dalam sepekan sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan seluruh warga.
Mayoritas penduduk yang bekerja sebagai petani akhirnya memilih menjual sebagian ternaknya untuk membeli air bersih. Ayam menjadi ternak yang paling banyak dijual, sedangkan kambing muda dilepas apabila keluarga masih memiliki persediaan ternak.”Mayoritas karena memang 90 persen petani, kemudian anak-anaknya yang muda merantau ke Jogja maupun ke Solo, jadi ya hanya tinggal orang tuanya yang sudah sepuh, yang sudah tua, ya apa yang mereka miliki saja untuk bisa dijual buat bisa membeli air,” jelas Sutopo.”Bukan menjual sapi ataupun jual kambing secara besar-besaran, enggak. Hanya kami kurangi satu atau ternak ayam kami jual kurangi begitu, ya bisa membeli begitu,” sambungnya.
Sutopo mengaku telah dua kali menjual ayam kampung pada musim kemarau tahun ini. Seekor ayam dewasa dijual sekitar Rp40 ribu, sedangkan satu tangki air bersih yang didatangkan dari Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah (Jateng), seharga sekitar Rp120 ribu. Satu tangki tersebut umumnya mampu memenuhi kebutuhan satu KK selama satu hingga dua pekan, termasuk untuk kebutuhan minum ternak yang masih dipelihara.
Ia menyebut kebiasaan menjual sebagian ternak untuk membeli air bersih telah berlangsung selama bertahun-tahun dan menjadi pola yang terus berulang setiap musim kemarau. Selain harus membeli air, warga juga menghadapi tambahan beban karena harus mendatangkan pakan ternak dari luar daerah akibat rumput mengering.”Semenjak sudah berkeluarga (dan menetap di Kemesu) 2012, sesudah musim hujan selesai, kemudian berganti bulan kemarau, apa yang kami miliki terus kalau pas saya bekerja mungkin bisa untuk dapat tambahan untuk bisa membeli air tersebut, begitu,” kata Sutopo.
Warga berharap ketersediaan infrastruktur air bersih dapat ditingkatkan sehingga ketergantungan terhadap pasokan air tangki dan penjualan ternak untuk memenuhi kebutuhan dasar tidak lagi terjadi setiap musim kemarau. []
Redaksi1
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan