Sedikitnya 57 orang meninggal dunia dalam insiden penyeberangan migran di Ceuta, sementara otoritas Spanyol menyatakan mayoritas migran telah kembali ke Maroko.
CEUTA – Krisis kemanusiaan membayangi perbatasan Kota Otonom Ceuta, Spanyol, setelah jumlah korban tewas dalam insiden penyeberangan migran ilegal meningkat menjadi sedikitnya 57 orang. Di saat bersamaan, otoritas Spanyol menyatakan sebagian besar migran yang terlibat dalam peristiwa tersebut telah kembali ke wilayah Maroko.
Peristiwa itu terjadi setelah gelombang besar migran ilegal berupaya memasuki Ceuta, kota otonom Spanyol yang berada di pesisir utara Afrika. Berdasarkan informasi yang disampaikan otoritas Spanyol, sebagian besar migran kini telah meninggalkan wilayah tersebut dan kembali ke Maroko, sebagaimana dilansir AFP, Sabtu, (01/08/2026).
Ceuta merupakan kota otonom Spanyol yang berbatasan langsung dengan Maroko. Bersama Kota Otonom Melilla, Ceuta menjadi satu-satunya perbatasan darat antara Uni Eropa dan Benua Afrika sehingga kerap menjadi jalur tujuan para migran yang ingin memasuki kawasan Eropa.
Insiden yang terjadi pada pekan ini disebut sebagai salah satu upaya penyeberangan terbesar yang pernah terjadi di kawasan tersebut. Gelombang migran dalam jumlah besar memicu bentrokan dan desak-desakan yang mengakibatkan puluhan korban jiwa.
Meningkatnya jumlah korban tewas memperlihatkan besarnya risiko yang dihadapi para migran dalam upaya menyeberangi perbatasan. Peristiwa ini diperkirakan akan kembali mendorong perhatian terhadap pengelolaan perbatasan, perlindungan kemanusiaan, serta kerja sama antara Spanyol dan Maroko dalam menangani arus migrasi ilegal. []
Redaksi1
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan