Koleksi Lamiang Living Heritage memadukan wastra dan perhiasan khas Kalteng untuk memperluas promosi serta membuka pasar baru bagi perajin dan pelaku UMKM Palangka Raya.
PALANGKA RAYA – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Palangka Raya membuka peluang pasar yang lebih luas bagi perajin dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal melalui penampilan koleksi berbasis wastra Kalimantan Tengah (Kalteng) dalam ajang Indonesia Fashion Week (IFW) 2026 di Jakarta, Jumat (31/07/2026).
Koleksi bertajuk Lamiang Living Heritage itu ditampilkan di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, melalui kolaborasi Dekranasda Kota Palangka Raya bersama Bank Indonesia (BI) Perwakilan Kalteng, perancang busana Stefan Aji, Borneo Queen Jewelry, dan Titik Kumpul.
Partisipasi tersebut tidak hanya diarahkan untuk memperkenalkan kekayaan budaya daerah, tetapi juga menjadi sarana promosi produk unggulan agar dapat menjangkau konsumen dan pelaku industri fesyen di tingkat nasional maupun internasional.
Koleksi yang mengusung filosofi living heritage itu memadukan wastra khas Kalteng dengan perhiasan dalam rancangan busana modern. Perpaduan tersebut membawa pesan bahwa warisan budaya dapat terus berkembang tanpa kehilangan identitas dan nilai tradisionalnya.
Ketua Dekranasda Kota Palangka Raya Avina Fairid Naparin mengatakan, kolaborasi lintas sektor membuktikan bahwa budaya lokal dapat diolah menjadi karya fesyen yang memiliki daya saing tinggi.
“Setiap potong busana yang ditamplikan tidak hanya menawarkan keindahan visual, tetapi juga membawa pesan mendalam tentang pelestarian identitas budaya, pemberdayaan UMKM, serta akselerasi ekonomi kreatif daerah,” ujar Avina.
Menurut Avina, keikutsertaan Dekranasda Kota Palangka Raya dalam salah satu ajang fesyen nasional tersebut diharapkan memperluas jangkauan promosi produk unggulan daerah sekaligus membuka akses pasar baru bagi perajin dan pelaku UMKM.
Penampilan koleksi itu juga menjadi bagian dari upaya memperkuat posisi Kalteng sebagai daerah yang memiliki potensi besar dalam pengembangan fesyen berbasis budaya, sebagaimana dilansir Media Center Palangka Raya, Sabtu, (01/08/2026).
Melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga keuangan, perancang busana, perajin, dan pelaku usaha, produk kriya lokal diharapkan tidak berhenti sebagai komoditas budaya, tetapi berkembang menjadi bagian dari industri kreatif yang bernilai ekonomi.
“Lamiang Living Heritage bukan sekadar sebuah koleksi busana, melainkan sebuah cerita tentang warisan, kreativitas, dan kolaborasi yang menjadikan budaya Kalimantan Tengah tetap hidup dan terus bersinar di panggung fesyen Indonesia,” pungkasnya.
Keikutsertaan dalam IFW diharapkan berlanjut pada kerja sama pemasaran, peningkatan kapasitas produksi, dan pendampingan terhadap pelaku UMKM agar promosi di panggung nasional memberikan dampak ekonomi nyata bagi perajin Kota Palangka Raya. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan