Kalteng Hadapi Musim Kemarau dengan Operasi Hujan Buatan

Operasi Modifikasi Cuaca digelar di enam wilayah prioritas untuk meningkatkan peluang hujan, menjaga kelembapan gambut, dan menekan risiko karhutla selama musim kemarau.

PALANGKA RAYA – Pemerintah mengandalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menjaga kelembapan lahan gambut dan menekan peningkatan titik panas di sejumlah wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng). Operasi hujan buatan tersebut berlangsung pada 27 Juli hingga 2 Agustus 2026 atau menjelang puncak musim kemarau.

Pelaksanaan OMC diprioritaskan di Kota Palangka Raya serta Kabupaten Pulang Pisau, Kapuas, Kotawaringin Timur, Kotawaringin Barat, dan Gunung Mas. Sejumlah wilayah tersebut memiliki kawasan gambut yang rentan mengering dan terbakar ketika curah hujan menurun.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya Sugiyono, sebagaimana dilansir Media center, Jumat, (31/07/2026), mengatakan penyemaian awan dilakukan menggunakan bahan natrium klorida (NaCl). Operasi tersebut ditujukan untuk meningkatkan peluang turunnya hujan di tengah musim kemarau.

“Syarat utama OMC adalah adanya awan konvektif yang bisa disemai dan berpotensi menjadi hujan. Berdasarkan kajian bersama BNPB, akhir Juli sampai awal Agustus masih ada potensi pertumbuhan awan yang bisa kita manfaatkan,” ujarnya, Jumat (31/07/2026) di Palangka Raya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya mengkaji kondisi atmosfer dan peluang pertumbuhan awan konvektif. Hasil kajian tersebut menjadi dasar pelaksanaan penyemaian awan selama periode operasi.

Menurut Sugiyono, awan yang masih tumbuh pada akhir Juli hingga awal Agustus dimanfaatkan untuk meningkatkan peluang hujan di kawasan yang mulai mengalami pertambahan titik panas dan kejadian kebakaran lahan.

Tim pelaksana tidak melakukan penyemaian secara sembarangan. Penentuan lokasi penerbangan dan penyemaian mempertimbangkan arah angin, pergerakan awan, tingkat kelembapan, serta kondisi atmosfer.

“Data arah angin, pergerakan awan, hingga kondisi atmosfer menjadi acuan dalam menentukan titik penyemaian agar operasi berjalan efektif,” jelasnya.

Selama OMC berlangsung, BMKG memasok informasi cuaca secara waktu nyata kepada tim pelaksana. Data tersebut digunakan untuk menentukan waktu penerbangan, lokasi penyemaian, dan pergerakan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.

OMC menjadi bagian dari penanganan karhutla secara terpadu di Kalteng. Upaya itu melengkapi patroli kawasan rawan, pemadaman melalui jalur darat dan udara, serta peningkatan kesiapsiagaan personel dan peralatan.

“Pemerintah berharap hujan buatan dapat membantu menjaga kelembaban lahan gambut, dan menekan risiko kebakaran selama puncak musim kemarau,” pungkas Sugiyono.

Keberhasilan operasi bergantung pada ketersediaan awan yang memenuhi syarat penyemaian. Hujan yang dihasilkan diharapkan mampu membasahi gambut, mengurangi kemunculan titik panas, serta memperkuat pencegahan sebelum kebakaran meluas dan menimbulkan kabut asap. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com