ilustrasi

60 MPA Jadi Garda Awal Pencegahan Karhutla di Kaltara

Dishut Kaltara mengandalkan sekitar 60 kelompok MPA dan 18 regu Brigdal Karhutla untuk memperkuat deteksi serta penanganan dini kebakaran di tengah cuaca kering dan tertundanya pengadaan mesin pompa mini.

BULUNGAN – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) memperkuat pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berbasis masyarakat dengan mengandalkan sedikitnya 60 kelompok Masyarakat Peduli Api (MPA) di lima kabupaten/kota. Pelibatan warga menjadi penting untuk mendeteksi dan menangani kebakaran sejak dini, terutama ketika pengadaan mesin pompa mini bagi daerah rawan karhutla tahun ini tertunda akibat keterbatasan anggaran.

Kepala Bidang (Kabid) Perlindungan, Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Dinas Kehutanan (Dishut) Kaltara, Maryanto, mengatakan MPA menjadi unsur terdepan dalam mendeteksi munculnya api di sekitar kawasan hutan dan lahan sebelum informasi diteruskan kepada Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH).

“Kita dibantu sama MPA yang kita bentuk. Mereka yang melakukan deteksi dan penanganan dini serta menyampaikan ke Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH),” ujar Kepala Bidang Perlindungan, Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Dishut Kaltara Maryanto di Tanjung Selor, Kaltara, Rabu.

Jumlah MPA yang dibentuk Dishut bersama KPH kini mencapai sekitar 60 kelompok. Kabupaten Malinau memiliki jumlah terbanyak dengan 21 MPA, disusul Kabupaten Tana Tidung sebanyak 14 MPA, Kabupaten Nunukan 11 MPA, Kabupaten Bulungan 10 MPA, dan Kota Tarakan empat MPA.

Kelompok masyarakat tersebut dibekali sejumlah peralatan pemadaman sederhana untuk melakukan penanganan awal ketika menemukan kebakaran.

“Mereka kita bekali alat-alat pemadam sederhana seperti jet shooter (alat pompa punggung manual), kemudian cangkul, sekop, parang dan peralatan lainnya,” ujarnya, sebagaimana diberitakan Antara, Rabu (12/08/2026).

Dishut Kaltara sebenarnya merencanakan pengadaan mesin pompa mini pada 2026 untuk ditempatkan di daerah yang memiliki kerawanan karhutla. Namun, rencana tersebut belum dapat direalisasikan karena keterbatasan anggaran.

Kondisi itu menjadi perhatian karena dalam beberapa waktu terakhir kebakaran telah terjadi di sejumlah kabupaten dan kota dengan luasan lahan terbakar berkisar lima hingga 20 hektare.

“Yang belakangan ini kita lakukan pemadaman ada di Tarakan, Bulungan, Tana Tidung dan juga di Malinau,” katanya.

Selain mengandalkan MPA, Dishut Kaltara menyiagakan Brigade Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Brigdal Karhutla). Setiap KPH memiliki tiga regu, sedangkan Kantor Dishut Kaltara juga memiliki tiga regu khusus yang dapat diterjunkan ke lapangan.

“Setiap KPH ada tiga regu, satu regu 15 orang dan dinas sendiri ada tiga regu. Jadi total ada 18 regu yang siap memang turun ke lapangan,” kata Maryanto.

Untuk mendukung operasi pengendalian kebakaran, Dishut Kaltara memiliki sembilan kendaraan roda enam water suplay, 10 kendaraan roda empat slip on, lima mobil personel pengendalian kebakaran hutan dan lahan (dalkarhutla), serta dua speedboat.

“Untuk peralatan lainnya ada mesin pompa pemadam portable ada 10 unit, pompa apung empat unit, jet shooter 30 unit, selang pemadam 115 unit, alat pelindung diri 48 set dan beberapa peralatan lainnya,” sebutnya.

Kesiapsiagaan personel dan peralatan tersebut dibutuhkan karena cuaca di Kaltara dalam beberapa hari terakhir cenderung panas, disertai angin cukup kencang dan minim hujan. Kondisi itu berpotensi mempercepat penyebaran api apabila terjadi pembakaran untuk pembukaan lahan pertanian maupun perkebunan.

Dishut Kaltara bersama KPH dan MPA terus menyampaikan imbauan kepada masyarakat agar tidak menggunakan api untuk membuka atau membersihkan lahan selama kondisi cuaca masih kering.

“Kita melalui teman-teman KPH dan juga MPA terus memberikan imbauan agar sementara tidak membakar lahan untuk membuka kebun atau pertanian karena kondisi tidak pernah hujan,” katanya.

Pelibatan MPA diharapkan memperpendek waktu respons ketika titik api muncul, sementara kesiapsiagaan 18 regu Brigdal Karhutla menjadi penopang penanganan lanjutan. Di tengah keterbatasan pengadaan peralatan baru, pencegahan dan partisipasi masyarakat menjadi salah satu kunci untuk menekan risiko meluasnya karhutla di Kaltara. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com