Kabut Asap Tutup 591 Sekolah di Sarawak

Memburuknya kualitas udara akibat kabut asap lintas batas membuat 591 sekolah di Sarawak ditutup, dengan Serian mencatat API 242 atau kategori sangat tidak sehat.

KUCHING – Aktivitas pendidikan di Sarawak, Malaysia, terganggu setelah memburuknya kualitas udara akibat kabut asap lintas batas memaksa penutupan 591 sekolah pada Jumat (21/08/2026). Penutupan mencakup 509 sekolah dasar dan 82 sekolah menengah di sejumlah wilayah yang mencatat tingkat pencemaran udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat.

Departemen Pendidikan Sarawak menyatakan 509 sekolah dasar yang ditutup memiliki 107.590 siswa, sedangkan 82 sekolah menengah menaungi 89.733 siswa. Sekolah tersebut tersebar di bawah pengawasan 10 Kantor Pendidikan Distrik.

Wilayah yang terdampak meliputi Kuching, Padawan, Bau, Lundu, Samarahan, Simunjan, Serian, Sri Aman, Lubok Antu, dan Betong.

Penutupan dilakukan setelah kualitas udara di sejumlah daerah Sarawak terus memburuk. Data pemantauan pada pukul 06.00 waktu setempat menunjukkan Serian, yang berada dekat perbatasan Malaysia-Indonesia, mencatat Indeks Pencemar Udara atau Air Pollutant Index (API) sebesar 242 dan masuk kategori sangat tidak sehat.

Sejumlah daerah lain juga mencatat kualitas udara tidak sehat. Sri Aman berada pada API 189, Kuching 188, Samarahan 180, Sarikei 172, Sibu 156, Bintulu 153, dan Kapit 107. Sementara Samalaju tercatat berada pada API 36.

Dalam klasifikasi kualitas udara Malaysia, API 0-50 masuk kategori baik, 51-100 sedang, 101-200 tidak sehat, 201-300 sangat tidak sehat, sedangkan nilai di atas 300 dikategorikan berbahaya.

Memburuknya kualitas udara di Sarawak terjadi di tengah meluasnya kabut asap lintas batas yang dikaitkan dengan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Kalimantan dan Sumatra, sebagaimana diberitakan Cnn Indonesia, Sabtu, (22/08/2026).

Kondisi udara tersebut mendorong otoritas pendidikan mengambil langkah pencegahan dengan menghentikan sementara kegiatan belajar secara tatap muka di sekolah yang berada di wilayah terdampak.

Perkembangan kualitas udara selanjutnya menjadi faktor penting dalam menentukan keberlanjutan kegiatan sekolah. Pemantauan diperlukan untuk melindungi pelajar dan tenaga pendidikan dari paparan polusi udara, terutama di kawasan dengan API pada kategori tidak sehat dan sangat tidak sehat. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com