OIKN bersama BMKG, TNI AU, BPBD, dan instansi terkait melakukan modifikasi cuaca untuk menjaga ketersediaan air sekaligus mengantisipasi kekeringan dan Karhutla setelah Kaltim hampir dua pekan minim hujan.
NUSANTARA – Ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Timur (Kaltim) mendorong Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) bersama sejumlah instansi melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah tersebut dilakukan setelah wilayah Kaltim hampir dua pekan tidak diguyur hujan, sementara sepanjang Agustus 2026 telah tercatat 273 kejadian kebakaran lahan dengan luas sekitar 752 hektare.
OMC dilaksanakan sejak Jumat (21/08/2026) hingga Senin (24/08/2026) dengan melibatkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta instansi terkait lainnya.
Operasi tersebut tidak hanya diarahkan untuk menekan dampak musim kering dan potensi Karhutla, tetapi juga menjaga ketersediaan air permukaan di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan sekitarnya.
Hingga Senin (24/08/2026) pukul 10.00 Waktu Indonesia Tengah (WITA), sebanyak lima sortie penerbangan telah dilakukan menggunakan pesawat Casa 212 A-2105 dari Markas Operasi Pangkalan Udara (Lanud) Dhomber, Balikpapan. Setiap penerbangan membawa sekitar 800 kilogram bahan semai berupa natrium klorida (NaCl).
OMC dilakukan melalui penyemaian awan atau cloud seeding dengan memanfaatkan awan yang memiliki potensi menghasilkan hujan. Penentuan lokasi penyemaian mempertimbangkan pertumbuhan awan, arah dan kecepatan angin, serta kondisi atmosfer.
Staf Khusus Kepala OIKN Bidang Manajemen dan Strategi Konstruksi Danis Hidayat Sumadilaga mengatakan operasi tersebut diarahkan untuk mengantisipasi berkurangnya ketersediaan air akibat musim kering, sebagaimana dilansir Otorita IKN, Senin (24/08/2026).
“Saat ini kita mengalami musim kering, dampak dari terjadinya El Nino. Bukan hanya di Kaltim, tetapi di seluruh Indonesia, bahkan di seluruh dunia. Dampak El Nino itu di antaranya kekeringan. Salah satu hal yang perlu kita antisipasi adalah ketersediaan air. Makanya kita mencoba melakukan modifikasi cuaca untuk menambah volume air permukaan yang ada di wilayah IKN dan sekitarnya,” ujar Danis.
Sementara itu, Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan BMKG, Djoko Sumardiono, mengatakan efektivitas OMC sangat bergantung pada ketersediaan awan potensial. Kondisi musim kemarau membuat peluang menemukan awan yang memenuhi syarat penyemaian menjadi lebih terbatas.
“Terkait cuaca terkini, di Kalimantan Timur sudah hampir dua pekan ini tidak turun hujan. Untuk operasi modifikasi cuaca kali ini, perkembangan awan untuk hari ini ada di perbatasan utara Kalimantan Timur itu sangat bagus dilakukan operasi ini. Secara historis tingkat keberhasilan (OMC) ini di angka 30 persen karena ini musim kemarau yang langka awan,” jelas Djoko, pada Jumat (21/08/2026) yang lalu.
Hasil pemantauan hingga Senin pagi menunjukkan hujan mulai terjadi di sejumlah wilayah. Pos Curah Hujan Long Lebusan di wilayah hulu Wilayah Sungai (WS) Mahakam mencatat hujan di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) pada Sabtu (22/08/2026) pukul 02.00 hingga 02.30 WITA dengan curah hujan sekitar 20 milimeter.
Informasi hujan juga dilaporkan dari sejumlah wilayah di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Namun, data dalam laporan tersebut belum merinci intensitas maupun sebaran hujan di Kukar.
Di kawasan IKN, ketinggian muka air pada bangunan pengambilan air atau intake Sungai Sepaku yang menjadi salah satu sumber air baku turut mengalami kenaikan. Elevasi air yang sebelumnya berada pada posisi +2,04 meter naik menjadi +2,05 meter atau bertambah sekitar satu sentimeter pada pukul 08.20 WITA.
Upaya menjaga ketersediaan air berjalan bersamaan dengan peningkatan kewaspadaan terhadap Karhutla. Kepala Pelaksana BPBD Kaltim Buyung Dodi Gunawan mengatakan ratusan kejadian kebakaran lahan telah tercatat sepanjang Agustus 2026.
“Di Agustus ini totalnya sudah 273 titik kejadian kebakaran lahan. Luas lahannya sekitar 752 hektare berdasarkan data yang masuk di kami. Penanganan tetap dilakukan, termasuk upaya preventif dan edukasi kepada masyarakat, melalui surat edaran dari Kementerian Lingkungan Hidup agar tidak melakukan pembakaran lahan,” ujar Buyung, pada Sabtu (22/08/2026).
OIKN bersama BMKG, TNI AU, BPBD Kaltim, dan instansi terkait akan terus memantau perkembangan atmosfer, potensi awan hujan, kondisi sumber air, serta ancaman Karhutla. Pelaksanaan OMC berikutnya akan menyesuaikan dengan ketersediaan awan yang memenuhi kriteria penyemaian untuk membantu menjaga pasokan air dan mengurangi dampak musim kering di IKN serta wilayah sekitarnya. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan