Serangan Houthi terhadap kapal tanker di lepas pantai Arab Saudi menandai kembalinya ketegangan militer di Yaman sekaligus meningkatkan risiko gangguan terhadap jalur energi dan perdagangan di Laut Merah.
JAKARTA – Jalur pelayaran di sekitar Laut Merah kembali menghadapi tekanan setelah kelompok Houthi menyerang kapal tanker minyak mentah di lepas pantai Arab Saudi, Senin (24/8/2026). Serangan tersebut menjadi bagian dari rangkaian aksi militer yang kembali mempertemukan Houthi dengan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi setelah sekitar empat tahun berada dalam kondisi relatif tenang.
Serangan di sekitar Selat Bab el-Mandeb dinilai tidak hanya berkaitan dengan konflik internal Yaman, tetapi juga berpotensi mengganggu jalur perdagangan dan energi internasional. Perairan tersebut menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan menjadi jalur alternatif bagi ekspor minyak Arab Saudi serta negara-negara Teluk lainnya yang terdampak blokade Iran di Selat Hormuz.
Sepanjang Agustus 2026, Houthi juga melancarkan serangan ke sejumlah wilayah yang berada di bawah kendali pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, terutama kota pelabuhan Mokha. Pemerintah Yaman kemudian merespons dengan menargetkan infrastruktur yang dikuasai Houthi, sebagaimana diberitakan Detik, Rabu (26/8/2026).
Hisham Al-Omeisy, analis konflik asal Yaman, menilai posisi Mokha membuat wilayah tersebut memiliki arti strategis bagi Houthi. “Mokha menghadap Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb, yang memiliki arti strategis penting bagi Houthi,” kata Al-Omeisy kepada DW. “Dalam jangka panjang, Houthi ingin melemahkan kendali pemerintah atas wilayah pesisir Laut Merah dan mereka mengincar kendali penuh atas Provinsi Al-Hudeydah [yang mencakup Mokha] untuk melanjutkan strategi mereka menekan perdagangan maritim global,” ujarnya.
Menurut Al-Omeisy, perubahan strategi Houthi juga dipengaruhi kondisi politik dan ekonomi di dalam negeri. Setelah gencatan senjata pada 2022, Arab Saudi terus memberikan dukungan finansial dan militer kepada pemerintah Yaman, sementara Houthi mempertahankan posisi sebagai penguasa de facto di sejumlah wilayah.
“Houthi berada di bawah tekanan besar di dalam negeri untuk memenuhi janji-janji mereka, misalnya mereformasi pemerintahan, membayar gaji, dan memperbaiki taraf hidup,” kata Al-Omeisy. Ia menilai kelompok tersebut memanfaatkan konflik yang lebih luas di Timur Tengah untuk mengalihkan perhatian dari persoalan domestik dengan “mengatakan bahwa kami sekarang sedang sibuk dengan perang lain.”
Al-Omeisy juga melihat serangan terhadap jalur pelayaran sebagai langkah yang diperhitungkan. “Mereka belajar dari cara Iran pada dasarnya berhasil mendominasi Selat Hormuz,” katanya. Ia menambahkan bahwa blokade terhadap impor dan ekspor minyak membuat Arab Saudi berada dalam posisi yang sangat rentan.
Eskalasi tersebut menempatkan Selat Bab el-Mandeb dan kawasan pesisir Laut Merah sebagai titik penting dalam perkembangan konflik Yaman. Jika serangan berlanjut, gangguan terhadap pelayaran di kawasan itu berpotensi memperbesar tekanan terhadap aktivitas perdagangan dan distribusi energi regional.
Di sisi lain, konflik yang kembali memanas mengancam ketenangan relatif yang berlangsung sejak gencatan senjata 2022. Kondisi tersebut membuat perkembangan di wilayah pesisir Yaman menjadi perhatian, terutama karena kawasan itu memiliki posisi strategis bagi jalur pelayaran internasional. []
Redaksi1
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan