Seorang warga meninggal saat ikut memadamkan karhutla di Sajau Hilir yang belum terkendali sejak 16 Agustus 2026 akibat titik api tersebar, akses sulit, dan terbatasnya sumber air.
BULUNGAN – Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Sajau Hilir, Kabupaten Bulungan (Bulungan), Kalimantan Utara (Kaltara), memakan korban jiwa setelah seorang warga meninggal saat ikut memadamkan api. Kebakaran yang berlangsung sejak 16 Agustus 2026 itu hingga kini belum terkendali karena tersebar di banyak titik, didominasi lahan gambut, serta berada di kawasan yang sulit dijangkau dan minim sumber air.
Korban diketahui bernama Juli Pongamba (51), warga Desa Sajau Hilir yang bersama masyarakat lainnya terlibat dalam pemadaman sejak kebakaran mulai terjadi. Juli dilaporkan sempat pingsan ketika berada di lokasi pemadaman sebelum kemudian meninggal dunia. Penyebab pasti kematiannya belum diketahui.
Kepala Seksi (Kasi) Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bulungan Supranoto membenarkan adanya warga yang meninggal saat kegiatan pemadaman tersebut, sebagaimana diberitakan Kompas, Sabtu, (29/08/2026).
“Benar satu orang meninggal dalam aksi pemadaman. Kita tidak tahu pasti penyebabnya, dia pingsan saat memadamkan api, bisa jadi kelelahan, banyak menghirup asap, atau memiliki riwayat penyakit tertentu,” imbuh Supranoto.
Warga Desa Sajau Hilir, Riswandi, mengatakan Juli termasuk warga yang aktif berada di lapangan bersama masyarakat lain dalam upaya memadamkan kebakaran.
“Saat masyarakat ramai padamkan api, Pak Juli jatuh pingsan. Mungkin kelelahan karena ikut terus di lapangan sejak 16 Agustus kemarin. Mungkin banyak betul hirup asap,” kata dia.
Selain menimbulkan risiko bagi warga dan petugas, karakteristik wilayah menjadi tantangan utama dalam penanganan karhutla. Kebakaran muncul di sejumlah lokasi yang sebagian besar tidak memiliki akses kendaraan, sementara lahan yang terbakar mayoritas berupa gambut dalam kondisi basah maupun kering.
“Kebakaran terjadi sejak 16 Agustus 2026 lalu. Lahan yang terbakar mayoritas gambut. Ada yang basah juga ada yang kering. Lokasi api kebanyakan di wilayah yang sulit dijangkau kendaraan,” ujarnya saat dihubungi, Sabtu (29/08/2026).
BPBD Bulungan menerapkan dua pola pemadaman menyesuaikan akses menuju titik api. Untuk kebakaran yang berada dekat pesisir atau perairan, personel dan warga melakukan pemadaman secara langsung dengan menggunakan perahu ketinting untuk menjangkau lokasi.
Sementara itu, titik api yang dapat diakses melalui jalan ditangani menggunakan truk tangki pemadam. Kendala lebih berat terjadi di wilayah hulu Sajau karena persediaan air terbatas sehingga kebutuhan air untuk pemadaman harus diambil dari wilayah hilir.
Kondisi tersebut memperlambat upaya membawa pasokan air ke titik kebakaran, terutama ketika api tersebar di sejumlah lokasi yang berjauhan.
“Untuk luasan wilayah yang terbakar kita belum pastikan, karena tersebar di banyak titik. Yang kita upayakan saat ini enam titik. Awal kebakaran saja, sudah sekitar 10 hektar yang terbakar,” jelasnya.
Pemadaman turut melibatkan Masyarakat Peduli Api (MPA) bersama warga setempat. Mereka melakukan pemadaman langsung sekaligus berupaya memutus jalur rambatan api pada sejumlah lokasi yang dikhawatirkan mendekati permukiman penduduk.
Keterlibatan warga menjadi penting karena sejumlah titik kebakaran sulit dijangkau kendaraan pemadam. Namun, meninggalnya seorang warga saat ikut memadamkan api juga menunjukkan tingginya risiko keselamatan dalam operasi lapangan yang telah berlangsung selama hampir dua pekan tersebut.
Hingga berita ini dilaporkan, BPBD Bulungan bersama MPA dan warga masih melakukan pemadaman terhadap api yang terus merambat di sejumlah titik. Pengendalian karhutla menjadi mendesak untuk mencegah kebakaran meluas menuju permukiman sekaligus mengurangi paparan asap dan risiko keselamatan bagi masyarakat maupun personel yang bertugas. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan