Operasi nasional India sejak 12 Juni hingga 31 Agustus 2026 menyelamatkan lebih dari 3.800 anak sekaligus menghasilkan lebih dari 575 laporan polisi terkait praktik pekerja anak dan eksploitasi.
NEW DELHI – Pemerintah India meningkatkan tekanan hukum terhadap praktik eksploitasi pekerja anak setelah lebih dari 575 laporan polisi resmi First Information Report (FIR) didaftarkan selama operasi nasional yang juga berhasil menyelamatkan lebih dari 3.800 anak dari praktik pekerja anak dalam kurun sekitar dua setengah bulan.
Operasi yang berlangsung sejak 12 Juni hingga 31 Agustus 2026 tersebut dijalankan National Commission for Protection of Child Rights (NCPCR) atau Komisi Nasional Perlindungan Hak Anak India dengan menggandeng pemerintah negara bagian, administrasi wilayah persatuan, kepolisian, dinas ketenagakerjaan, pemerintah distrik, dan sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
Anak-anak yang menjadi sasaran penyelamatan merupakan mereka yang terlibat dalam praktik pekerja anak maupun berada dalam kondisi rentan terhadap perdagangan manusia dan eksploitasi.
Berdasarkan Undang-Undang Pekerja Anak dan Remaja (Pelarangan dan Pengaturan) India, usia minimum yang diperbolehkan untuk bekerja ditetapkan 14 tahun. Karena itu, kampanye tersebut diarahkan untuk memperkuat identifikasi dan penyelamatan anak di bawah batas usia tersebut sekaligus memastikan proses rehabilitasi setelah mereka dikeluarkan dari lingkungan kerja.
Selain operasi penyelamatan, pemerintah meminta otoritas di tingkat negara bagian dan wilayah persatuan memperkuat pencatatan kasus, proses hukum, rehabilitasi, pemulangan anak, pemberian kompensasi, hingga pengembalian korban ke pendidikan formal.
Lebih dari 575 FIR yang didaftarkan selama kampanye menunjukkan penanganan tidak hanya berhenti pada penyelamatan korban, tetapi turut diarahkan pada proses penegakan hukum terhadap praktik pekerja anak, sebagaimana diberitakan Cnn Indonesia, Sabtu, (05/09/2026).
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak India juga mendorong pemerintah daerah meningkatkan koordinasi untuk mengidentifikasi kawasan yang dinilai rawan pekerja anak, perdagangan manusia, dan bentuk eksploitasi lainnya.
NCPCR selanjutnya melakukan pertemuan dengan pemerintah distrik untuk mengevaluasi pelaksanaan operasi, mengatasi hambatan di lapangan, serta memastikan laporan tindak lanjut disampaikan secara berkala.
Upaya pencegahan juga dilakukan melalui kampanye edukasi di media sosial dan berbagai platform komunikasi. Informasi yang disebarkan mencakup mekanisme pelaporan pekerja anak, pentingnya rehabilitasi korban, serta pengembalian anak ke jalur pendidikan setelah proses penyelamatan.
Pendekatan rehabilitasi menjadi bagian penting karena penyelamatan secara fisik belum menjamin anak terbebas dari eksploitasi berulang. Pengembalian ke lingkungan keluarga yang aman, pemenuhan hak pendidikan, serta dukungan sosial diperlukan untuk mengurangi risiko anak kembali bekerja akibat tekanan ekonomi.
Dengan lebih dari 3.800 anak telah diselamatkan, tantangan selanjutnya bagi pemerintah India adalah memastikan proses hukum terhadap kasus yang ditemukan berjalan efektif serta seluruh korban memperoleh rehabilitasi dan akses pendidikan yang memadai agar tidak kembali terjebak dalam siklus pekerja anak, kemiskinan, perdagangan manusia, maupun eksploitasi. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan