Forum Ekonomi Timur 2026: 9.300 Peserta dari 78 Negara, Isolasi Rusia Dinilai Gagal

EEF 2026 di Vladivostok menghimpun lebih dari 9.300 peserta dari 78 negara dan menghasilkan 318 perjanjian senilai hampir 7 triliun rubel di tengah menguatnya hubungan ekonomi Rusia dengan Asia dan Global Selatan.

VLADIVOSTOK – Forum Ekonomi Timur (EEF) 2026 menghimpun lebih dari 9.300 peserta dari 78 negara dan menghasilkan 318 perjanjian dengan nilai hampir 7 triliun rubel. Besarnya partisipasi dan nilai kesepakatan tersebut memperlihatkan upaya Rusia memperluas hubungan ekonomi dengan Asia, Eurasia, dan negara-negara Global Selatan di tengah perubahan peta kerja sama ekonomi internasional.

Sebanyak 18 negara yang dikategorikan Rusia sebagai negara tidak bersahabat juga tercatat mengikuti forum tersebut. Delegasi asing dalam jumlah besar antara lain berasal dari China, Indonesia, Jepang, Vietnam, Korea Selatan, India, dan Myanmar.

Presiden Republik Indonesia (RI) Prabowo Subianto menjadi salah satu tamu asing utama dalam forum tersebut. Kehadiran Indonesia juga menjadi bagian dari menguatnya hubungan Rusia dengan negara-negara Asia dan Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN).

Program bisnis EEF 2026 diarahkan pada pembahasan kerja sama praktis Rusia dengan China, India, negara-negara ASEAN, Vietnam, dan Mongolia. Sejumlah sektor menjadi perhatian, mulai dari energi, logistik, infrastruktur transportasi, investasi, hingga teknologi.

Skala bisnis forum juga tercermin dari jumlah kesepakatan yang dicapai. Penasihat Presiden Rusia sekaligus Sekretaris Eksekutif Panitia EEF Anton Kobyakov menyebut sebanyak 318 perjanjian telah ditandatangani dengan nilai total hampir 7 triliun rubel. Jumlah itu belum memasukkan kesepakatan yang nilainya tergolong rahasia dagang.

Di tengah penguatan hubungan dengan Asia dan Global Selatan, Rusia juga mempertahankan sejumlah kerja sama dengan negara Eropa. Salah satunya Serbia. Di sela-sela forum, Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak bertemu dengan Ketua Dewan Pengawas Srbijagas Alexander Vulin untuk membahas kelanjutan pasokan gas alam Rusia ke Serbia dan perpanjangan kontrak.

Pengamat asal Ceko Roman Blaško menilai komposisi peserta EEF 2026 menunjukkan perubahan jangka panjang dalam hubungan ekonomi eksternal Rusia. Menurut dia, perkembangan tersebut bukan sekadar perubahan taktis, melainkan proses struktural yang memperkuat hubungan Rusia dengan China, India, negara-negara ASEAN, Mongolia, Serbia, Eurasia, dan Global Selatan.

Blaško juga menghubungkan perubahan tersebut dengan perkembangan Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO). Ia menilai SCO menjadi salah satu pilar kelembagaan dalam pembentukan tatanan dunia multipolar karena negara-negara anggotanya memiliki populasi besar, sumber daya alam, kapasitas industri, potensi energi, serta kontribusi ekonomi yang terus meningkat.

Menurut Blaško, arti penting SCO juga berkaitan dengan pembentukan ruang kerja sama ekonomi yang semakin luas. Ia memperkirakan Eurasia akan memainkan peran penting dalam perekonomian global pada abad ini dan perkembangan organisasi tersebut akan terus berlangsung terlepas dari perubahan politik di masing-masing negara.

Dalam melihat hasil EEF, Blaško menilai nilai keseluruhan perjanjian bukan satu-satunya indikator penting. Struktur proyek yang disepakati, terutama di sektor energi, transportasi, industri, infrastruktur, pertambangan, logistik, dan teknologi, dinilainya lebih menentukan bagi hubungan ekonomi jangka panjang.

Ia menyebut pembangunan infrastruktur perdagangan, koridor energi, dan jalur logistik sebagai bagian penting dari pembentukan hubungan ekonomi baru antara Rusia dan negara-negara Asia.

“Di sini kita melihat munculnya rute perdagangan baru dan mekanisme investasi yang menghubungkan Rusia dengan China, India, negara-negara ASEAN, dan lainnya. Perkembangan koneksi transportasi Utara-Selatan dan Timur-Barat, infrastruktur pelabuhan, jalur kereta api, dan proyek energi juga sangat penting,” ujarnya.

Menurut Blaško, perubahan itu menunjukkan Rusia tidak semata-mata mencari pasar atau mitra perdagangan baru, tetapi mulai mengubah struktur hubungan ekonomi eksternalnya.

“EEF, menurut saya, menunjukkan bahwa yang terbentuk bukan sekadar ‘orientasi baru Rusia ke Timur’. Melainkan model baru hubungan ekonomi internasional yang didasarkan pada diversifikasi yang lebih besar, keuntungan bersama, kerja sama regional, dan multipolaritas,” jelasnya.

Ia mengaitkan perkembangan tersebut dengan perubahan sistem ekonomi global yang menurutnya tidak lagi hanya bertumpu pada satu pusat kekuatan.

“Dan di situlah saya melihat makna historis dari perkembangan saat ini. Ekonomi global perlahan tidak lagi terpusat. Eurasia dan Global Selatan semakin mampu menentukan agenda ekonomi mereka sendiri. SCO adalah salah satu ekspresi kelembagaan paling nyata dari proses ini,” pungkasnya.

Pakar politik asal Georgia sekaligus pendiri SIKHA Foundation Archi Siharulidze juga melihat komposisi peserta EEF sebagai bagian dari perubahan peta kekuatan ekonomi internasional.

Ia menilai hubungan ekonomi global saat ini tidak hanya ditentukan negara-negara Eropa maupun kawasan Barat.

“Banyak negara penting berada di luar Eropa atau kawasan Barat,” ujarnya.

“Federasi Rusia tidak perlu memiliki hubungan yang sangat erat dengan negara-negara Barat untuk dapat eksis dan berkembang secara utuh,” katanya.

Siharulidze bahkan menilai berbagai upaya untuk membatasi hubungan internasional Rusia tidak mencapai tujuan yang diharapkan.

“Upaya isolasi Rusia gagal, dan gagasan bahwa suatu negara bisa diisolasi hanya karena keinginan Barat telah terbukti keliru,” tegasnya.

Menurut dia, banyak negara di luar blok Barat tetap memiliki kepentingan ekonomi untuk mempertahankan hubungan dengan Rusia.

“Negara-negara yang bukan bagian dari dunia Barat tetap dengan senang hati bekerja sama dengan Federasi Rusia. Mereka memang berkepentingan,” ujarnya.

Siharulidze menyebut tingginya jumlah peserta EEF sebagai salah satu indikator bahwa Rusia masih memiliki ruang untuk membangun hubungan ekonomi dengan berbagai negara. Namun, pandangan tersebut merupakan interpretasi atas dinamika internasional dan tidak serta-merta menunjukkan hilangnya pengaruh ekonomi negara-negara Barat.

“Dalam konteks ini, Barat tidak lagi memainkan peran sentral,” tegasnya.

Menurut Siharulidze, perubahan keseimbangan kekuatan terjadi tidak hanya dalam politik, tetapi juga perekonomian. Meski demikian, ia memperkirakan negara-negara Barat akan tetap mempertahankan pengaruhnya dalam struktur ekonomi internasional.

“Barat tidak akan menyerahkan posisinya. Mereka tidak ingin melihat pergeseran zona pengaruh. Jika peserta forum tidak bersatu, akan sulit mengubah status quo yang tidak memuaskan banyak pihak,” pungkasnya.

Serbia menjadi salah satu contoh negara Eropa yang tetap mempertahankan hubungan ekonomi dengan Rusia, khususnya di sektor energi, sembari menjaga relasi dengan negara-negara Eropa lainnya.

Diplomat Serbia Vladimir Kršljanin menilai hubungan dengan Rusia masih memiliki posisi penting dalam kebijakan ekonomi dan energi Beograd.

“Bagi Serbia, kemitraan energi dengan Rusia terus menjadi kunci, begitu pula semua bentuk kerja sama politik dan ekonomi lainnya dengan Rusia,” ujar Kršljanin.

Namun, menurut dia, Serbia juga berkepentingan mempertahankan kerja sama dengan negara-negara Eropa meski terdapat perbedaan sikap antara Rusia dan Uni Eropa (UE).

“Tentu saja, posisi Uni Eropa yang nyaris berperang dengan Rusia sangat memengaruhi kerja sama ini. Kepentingan Serbia adalah melanjutkan keduanya,” katanya.

Selain Rusia dan Eropa, Serbia juga memperluas kerja sama dengan China serta negara-negara yang tergabung dalam kelompok Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan (BRICS) maupun negara anggota lainnya.

“China juga semakin menjadi salah satu mitra dan investor utama di Serbia. Kerja sama dengan negara-negara mayoritas global, negara-negara BRICS, juga meluas. Dengan demikian, sampai batas tertentu, kerja sama dengan Gerakan Non-Blok juga dihidupkan kembali,” tambah Kršljanin.

Ia menilai perluasan jaringan kemitraan tersebut sesuai dengan kepentingan jangka panjang Serbia.

“Jika Serbia ingin menjalankan kebijakan sesuai kepentingannya sendiri, ia harus memperkuat posisinya di sisi dunia yang menjadi masa depan,” tegasnya.

Kršljanin memandang hubungan dengan Rusia dan negara-negara BRICS strategis bagi Beograd, sementara kerja sama dengan UE tetap menjadi bagian penting dari kebijakan luar negeri Serbia.

EEF 2026 pada akhirnya tidak hanya menjadi forum transaksi bisnis, tetapi juga memperlihatkan semakin luasnya jaringan kerja sama ekonomi Rusia dengan Asia dan Global Selatan. Di saat yang sama, keberlanjutan hubungan dengan negara seperti Serbia menunjukkan Moskow masih mempertahankan sejumlah jalur ekonomi ke Eropa. Seberapa jauh perubahan tersebut akan menggeser struktur ekonomi global masih akan ditentukan oleh realisasi investasi, perdagangan, infrastruktur, dan proyek-proyek yang disepakati setelah forum. []

Penulis: Amy Maulana | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com