Tiga pekerja ditemukan hidup dari dua terowongan dalam dua hari di tengah operasi pencarian besar-besaran setelah banjir Nepal–China yang menewaskan sedikitnya 1.375 orang dan membuat lebih dari 5.500 orang hilang.
KATHMANDU – Tiga pekerja proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) berhasil ditemukan hidup dari terowongan dalam dua hari terakhir setelah banjir bandang menerjang wilayah Nepal. Penyelamatan terbaru dilakukan terhadap seorang warga negara China yang bertahan selama 10 hari di dalam Terowongan Proyek PLTA Upper Trishuli-1, Distrik Rasuwa, pada Sabtu (05/09/2026).
Korban ditemukan dari kedalaman sekitar 225 meter oleh tim gabungan yang melibatkan personel Angkatan Darat Nepal dan tenaga ahli asing. Penyelamatan tersebut, sebagaimana dilansir Kompas, Sabtu, (05/09/2026), menambah harapan bahwa masih ada pekerja lain yang dapat ditemukan hidup di sejumlah terowongan yang tertutup material banjir.
Foto penyelamatan yang dipublikasikan melalui halaman Facebook militer memperlihatkan pria tersebut dalam kondisi sadar. Kedua tangannya tampak tertutup lumpur tebal setelah terjebak selama berhari-hari di dalam terowongan.
“Kondisi kesehatannya saat ini sedang dinilai dan operasi pencarian dan penyelamatan lebih lanjut terus berlanjut,” kata pihak militer.
Keberhasilan itu terjadi sehari setelah dua pekerja PLTA asal Nepal diselamatkan dari Terowongan Trishuli 3A pada Jumat (04/09/2026). Keduanya ditemukan hidup setelah sekitar sembilan hari terjebak dan kemudian dibawa ke rumah sakit dalam kondisi stabil.
Para penyelamat menyebut penemuan dua pekerja tersebut sebagai “mukjizat”. Pemerintah Nepal sebelumnya memperkirakan lebih dari 100 pekerja kemungkinan masih bertahan di sejumlah terowongan yang tertutup akibat bencana.
Operasi pencarian kini terus dilakukan di beberapa lokasi. Tenaga ahli dari India, China, Australia, dan Korea Selatan turut membantu tim Nepal menembus terowongan yang tersumbat untuk mencari kemungkinan korban selamat lainnya.
Para pekerja hilang setelah banjir bandang menerjang kawasan perbatasan China dan Nepal pada 26 Agustus 2026. Bencana tersebut dilaporkan terjadi menyusul runtuhnya gletser dan material batuan dalam jumlah besar.
Sedikitnya 12 proyek PLTA dilaporkan mengalami kerusakan akibat banjir. Besarnya dampak bencana membuat operasi pencarian tidak hanya difokuskan pada terowongan, tetapi juga berbagai kawasan lain yang terdampak.
Berdasarkan data badan penanggulangan bencana nasional Nepal, sebanyak 1.344 jenazah telah ditemukan, sementara sekitar 5.000 orang masih dinyatakan hilang. Di China, media pemerintah melaporkan 31 orang meninggal dunia dan 531 orang masih hilang.
Dengan data tersebut, jumlah korban meninggal di kedua negara mencapai sedikitnya 1.375 orang, sedangkan lebih dari 5.500 orang masih dinyatakan hilang.
Besarnya jumlah korban juga membuat fasilitas penanganan jenazah mengalami tekanan. Sekitar 1.030 jenazah telah dimakamkan di kuburan massal setelah sampel asam deoksiribonukleat (DNA) diambil untuk membantu proses identifikasi pada kemudian hari.
Selain pencarian korban, pemerintah menghadapi persoalan pemenuhan kebutuhan ribuan warga yang kehilangan tempat tinggal dan kini bertahan di kamp pengungsian sementara.
Perdana Menteri (PM) Nepal Balendra Shah berjanji menyediakan tempat tinggal yang aman dan nyaman bagi masyarakat yang terdampak bencana.
“Kami tahu bahwa tinggal di sana (di kamp) tidak mudah bagi kalian,” katanya dalam unggahan di media sosial pada hari Jumat.
“Kami berjanji untuk sekali lagi menciptakan lingkungan di mana Anda dapat bermimpi dan membangun masa depan Anda,” pungkasnya.
Di tengah tingginya jumlah korban meninggal dan hilang, keberhasilan menemukan tiga pekerja dalam keadaan hidup selama dua hari berturut-turut menjadi dorongan bagi tim penyelamat untuk melanjutkan pencarian. Operasi di sejumlah terowongan akan terus dilakukan untuk membuka peluang menemukan korban selamat lainnya sekaligus mempercepat penanganan dampak kemanusiaan akibat bencana tersebut. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan