Pemprov Kalsel memperkuat penanganan karhutla Guntung Damar dengan 200 personel, 53 pompa utama, tambahan sekitar 20 pompa bantuan, serta dukungan helikopter untuk menjaga lahan tetap basah dan mencegah api kembali muncul.
BANJARBARU – Upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali muncul di kawasan Guntung Damar, Banjarbaru, Kalimantan Selatan (Kalsel), terus diperkuat melalui pembasahan lahan secara berkelanjutan. Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalsel mengerahkan sekitar 200 personel gabungan dan sedikitnya 53 pompa mesin dompeng untuk mempertahankan kondisi lahan tetap basah di wilayah yang masih memiliki ancaman titik api.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalsel Endarto selaku koordinator penanganan karhutla Guntung Damar mengatakan operasi di kawasan tersebut telah berlangsung secara intensif selama lebih dari 15 hari. Ratusan personel ditempatkan sesuai kebutuhan penanganan di lapangan.
“Di luar 53 mesin dompeng itu, ada tambahan sekitar 20 unit bantuan pompa dari pihak lain untuk memperkuat penanganan,” kata dia saat meninjau penanganan karhutla di Guntung Damar, Banjarbaru, Rabu, sebagaimana dilansir Antara, Rabu, (09/09/2026).
Kekuatan tersebut terdiri atas sekitar 150 petugas dari Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran, 30 personel dari Dinas ESDM dan relawan, serta 10 petugas dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang. Operasi juga diperkuat sejumlah personel pendukung dari instansi lainnya.
Endarto menjelaskan strategi penggunaan pompa tidak dilakukan secara seragam di seluruh kawasan. Mesin di titik yang kondisi lahannya telah cukup basah dapat dihentikan, sementara pompa pada area yang masih membutuhkan pasokan air tetap dioperasikan selama 24 jam dengan memanfaatkan sumber air dari Embung Jokowi.
“Pola tersebut diterapkan dengan mempertimbangkan efektivitas penggunaan mesin, sehingga pompa tidak harus terus bekerja pada lokasi yang tingkat kebasahan sudah mencukupi,” katanya.
Pembasahan berkelanjutan menjadi bagian penting dalam penanganan karena lahan yang telah dipadamkan tetap berpotensi kembali terbakar apabila kondisinya mengering. Karena itu, petugas terus menjaga kelembapan area yang dinilai masih membutuhkan penanganan untuk menekan peluang munculnya kembali api.
Penanganan melalui jalur darat juga diperkuat dari udara. Helikopter digunakan untuk melakukan water bombing pada titik tertentu, terutama kawasan yang sulit dijangkau atau tidak memungkinkan ditangani hanya dengan kekuatan personel dan peralatan di permukaan.
Pembagian tugas personel turut disesuaikan dengan waktu dan kondisi operasi. Aktivitas petugas lapangan lebih banyak dilakukan pada pagi hingga siang hari, sedangkan penanganan pada malam hari difokuskan pada kegiatan pembasahan menggunakan pompa.
“Seluruh peralatan intens digunakan untuk mempertahankan efektivitas penanganan di kawasan yang masih menghadapi ancaman titik api. Pemadaman dan pembasahan juga terus dilakukan sesuai perkembangan kondisi lahan gambut,” ujar Endarto.
Pemprov Kalsel melalui operasi gabungan tersebut tidak hanya menargetkan pemadaman api, tetapi juga menjaga lahan tetap basah agar potensi kebakaran susulan dapat ditekan. Penanganan akan terus disesuaikan dengan kondisi kawasan dan perkembangan titik api di lapangan. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan