ilustrasi

Pengutilan di Tiga Minimarket, 14 Murid SD Bontang Jalani Pembinaan

Pemkot Bontang akan melakukan asesmen dan pembinaan terhadap 14 murid SD dengan melibatkan orang tua dan sekolah, sementara penyebab tindakan mereka masih dalam penelusuran.

BONTANG – Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang menyiapkan asesmen dan pembinaan khusus terhadap 14 murid Sekolah Dasar (SD) yang diduga terlibat aksi pengutilan di tiga minimarket. Penanganan juga melibatkan orang tua dan sekolah sebagai upaya mencegah perilaku serupa terulang sekaligus memperkuat pengawasan terhadap lingkungan serta penggunaan gawai oleh anak.

Kasus tersebut diketahui pihak sekolah pada Selasa (08/09/2026) setelah menerima laporan dari guru Bimbingan dan Konseling (BK). Sekolah kemudian berkoordinasi dengan Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) untuk menentukan langkah penanganan.

Sebanyak 14 anak yang terlibat diketahui masih duduk di kelas II, IV, V, dan VI SD serta tinggal di kawasan yang sama di Bontang Utara. Pemerintah memilih langkah pembinaan dan asesmen guna mengetahui latar belakang perilaku mereka serta menentukan bentuk pendampingan yang diperlukan.

Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni menilai lingkungan dan penggunaan perangkat digital tanpa pengawasan dapat menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam perkembangan perilaku anak. Namun, penyebab pasti peristiwa tersebut masih menunggu hasil penelusuran lebih lanjut.

“Ini bisa jadi pengaruh lingkungan dan gadget yang luar biasa. Saya berulang kali sampaikan, gadget ini bisa memudahkan, tapi juga akan jadi tantangan. Orang tua tidak boleh membiarkan anak begitu saja,” ujar Neni, sebagaimana diberitakan Klikkaltim, Jumat (11/09/2026).

Menurut Neni, pemerintah belum dapat menyimpulkan motif maupun tingkat pemahaman anak-anak terhadap barang yang mereka ambil. Karena itu, proses investigasi dan asesmen dinilai penting sebelum menentukan langkah lanjutan.

“Apakah mereka tahu fungsinya untuk apa? Kita belum tahu. Bisa jadi mereka cuma lihat barang di depan, lalu ambil begitu saja. Kita masih menunggu hasil investigasi,” lanjutnya.

Pemkot Bontang melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) selanjutnya akan melakukan pembinaan secara lebih mendalam. Orang tua murid dan pihak sekolah turut dilibatkan agar penanganan tidak berhenti pada peristiwa pengutilan, tetapi juga menyentuh faktor keluarga, lingkungan, dan pola pengawasan anak.

Seluruh anak juga akan menjalani asesmen untuk memetakan kebutuhan pendampingan serta memitigasi kemungkinan munculnya perilaku yang berhadapan dengan hukum pada kemudian hari. Proses tersebut sekaligus diarahkan untuk memperkuat nilai kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab sejak dini.

Pendekatan pembinaan diharapkan dapat menjadi ruang koreksi bagi anak tanpa memberikan stigma yang dapat berdampak pada tumbuh kembang mereka. Peran aktif orang tua, sekolah, dan lingkungan dinilai penting agar pengawasan serta pendidikan karakter dapat berjalan secara berkelanjutan. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com