Gereja Rusia Bawa Relik Dmitry Donskoy ke Medan Perang Ukraina

Gereja Ortodoks Rusia membawa fragmen tangan kanan Dmitry Donskoy ke wilayah Donetsk untuk memperkuat spiritual pasukan, sementara kritik muncul terhadap penggunaan relik keagamaan sebagai simbol dukungan terhadap perang di Ukraina.

DONETSK – Keputusan Gereja Ortodoks Rusia membawa relik Dmitry Donskoy, pangeran abad ke-14 yang menjadi simbol kepahlawanan Rusia, ke wilayah Donetsk pada Selasa (08/09/2026) memunculkan sorotan terhadap semakin kuatnya keterlibatan institusi keagamaan dalam mendukung perang Rusia di Ukraina. Fragmen berupa bagian tangan kanan Donskoy dibawa ke kawasan pertempuran dengan tujuan “memperkuat secara spiritual” pasukan Rusia dan membantu mereka meraih kemenangan.

Relik tersebut pertama kali dibawa ke monumen peringatan perang Saur-Mogila di wilayah Donetsk yang dikuasai Rusia. Di lokasi itu, pemuka Gereja Ortodoks Rusia menggelar kebaktian doa bersama perwakilan militer.

Dmitry Donskoy merupakan pangeran Rusia abad ke-14 yang dikenal karena kemenangannya melawan Gerombolan Emas Mongol pada 1380. Ia kemudian dikanonisasi Gereja Ortodoks Rusia pada 1988.

Gereja Ortodoks Rusia mengaitkan perjalanan relik tersebut dengan situasi peperangan yang saat ini berlangsung.

“Panglima suci akan pergi ke tempat di mana nasib tanah air ditentukan hari ini, agar ia dapat secara tak terlihat mengambil tempatnya di barisan pertempuran yang sama dengan para pembela kita.”

Vladimir dari Donetsk dan Mariupol, salah seorang pemimpin senior Gereja Ortodoks Rusia di wilayah tersebut, mengatakan kehadiran relik Donskoy diharapkan membantu tentara dan warga sipil untuk “memobilisasi kekuatan mereka” serta mencapai kemenangan.

Langkah tersebut, sebagaimana diberitakan Cnn Indonesia, Jumat, (11/09/2026), menjadi bagian dari hubungan yang semakin erat antara Gereja Ortodoks Rusia dan upaya perang Moskow sejak Presiden Rusia Vladimir Putin melancarkan invasi skala penuh ke Ukraina pada Februari 2022.

Sejak perang berlangsung, sejumlah imam Gereja Ortodoks Rusia dikirim mendampingi unit militer maupun ke wilayah yang dikuasai Rusia. Gereja-gereja di berbagai wilayah Rusia juga diperintahkan membacakan doa untuk kemenangan pasukan negara tersebut.

Namun, penggalian dan pemanfaatan relik Donskoy untuk kepentingan yang berkaitan dengan perang turut memicu kritik. Sejumlah pengkritik menilai pembukaan makam tokoh yang telah berusia berabad-abad tersebut berpotensi bertentangan dengan protokol keagamaan.

Makam Donskoy sebenarnya telah lama diketahui keberadaannya. Namun, menurut laporan tersebut, Gereja Ortodoks Rusia sebelumnya tidak melakukan penggalian jenazah meskipun Donskoy telah dikanonisasi sejak 1988.

Pendeta Ortodoks sekaligus sejarawan yang berbasis di luar Rusia, Alexander Zanemonets, menilai keputusan menggali relik tersebut hampir empat dekade setelah kanonisasi Donskoy tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan simbolik dalam suasana perang.

“Pada tahun kelima perang, kepemimpinan gereja di Moskow mulai bertanya-tanya apa lagi yang dapat mereka lakukan untuk menunjukkan dukungan mereka terhadap apa yang disebut Rusia sebagai ‘operasi militer khusus’.”

Menurut Zanemonets, citra Donskoy sebagai pembela tanah air selaras dengan narasi Kremlin bahwa Rusia sedang mempertahankan diri dalam konflik tersebut. Di sisi lain, Ukraina dan negara-negara pendukungnya memandang perang yang dimulai dengan invasi Rusia pada Februari 2022 sebagai agresi terhadap negara berdaulat.

Penggunaan relik Donskoy di tengah perang dengan demikian tidak hanya memiliki dimensi keagamaan, tetapi juga memperlihatkan bagaimana simbol sejarah dan spiritual digunakan dalam narasi patriotisme Rusia. Perdebatan mengenai langkah tersebut diperkirakan terus mengiringi hubungan erat antara Gereja Ortodoks Rusia dan kebijakan perang Kremlin. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com