Sektor Pertanian Kuasai 33,59 Persen PDRB Gumas

Kontribusi sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan terhadap PDRB Gumas naik menjadi 33,59 persen pada 2025, dengan perkebunan sawit sebagai salah satu penopang utama sekaligus memunculkan tantangan pemanfaatan ruang untuk pertanian pangan.

GUNUNG MAS – Dominasi sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan dalam perekonomian Kabupaten Gunung Mas (Gumas) meningkat pada 2025, tetapi kenaikan kontribusi tersebut sekaligus menghadirkan tantangan bagi daerah dalam menjaga ketersediaan ruang untuk pertanian pangan.

Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Gumas, sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menyumbang 33,59 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Gumas pada 2025. Angka tersebut meningkat dibandingkan kontribusi pada 2024 yang berada di level 33,03 persen.

Kepala Dinas Pertanian (Distan) Gumas Aryantoni mengatakan, peningkatan tersebut menunjukkan sektor pertanian dalam arti luas masih menjadi bagian penting dalam struktur ekonomi daerah. Pernyataan itu disampaikannya saat diwawancarai, Kamis (17/09/2026), sebagaimana diberitakan Tabengan, Kamis, (17/09/2026).

“Berdasarkan rilis BPS Gunung Mas, peranan terbesar pembentuk PDRB Kabupaten Gunung Mas pada tahun 2025 dihasilkan oleh lapangan usaha kategori Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, yaitu mencapai 33,59 persen. Angka ini meningkat dari 33,03 persen di tahun 2024,” kata Aryantoni.

Menurut Aryantoni, besarnya kontribusi tersebut tidak terlepas dari pemanfaatan lahan untuk berbagai kegiatan pertanian. Kondisi itu membuat sektor tersebut tetap memiliki posisi dominan dalam menopang aktivitas produksi di Gumas.

“Kita berharap sektor ini tetap mampu mendominasi, mengingat konsistensi dan masih cukup dominan juga pemanfaatan lahan untuk sektor pertanian dalam arti luas,” ujar dia.

Namun, ukuran keberhasilan sektor pertanian tidak semata-mata ditentukan oleh kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi. Aryantoni menilai, sektor tersebut juga perlu diarahkan agar mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama kebutuhan pangan yang selama ini menjadi salah satu tantangan pembangunan daerah.

“Kita sama-sama berharap ke depannya sektor pertanian secara lapangan usaha juga akan mampu memenuhi kebutuhan dalam daerah Kabupaten Gunung Mas, secara khusus pada jenis kebutuhan pangan,” tuturnya.

Di tengah kontribusi sektor pertanian yang terus menguat, perkebunan kelapa sawit menjadi salah satu subsektor yang memberikan sumbangan besar terhadap struktur PDRB Gumas. Perkembangan itu turut didorong oleh harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit yang berada pada kisaran Rp2.800 hingga Rp3.500 per kilogram.

“Sebagian besar PDRB sektor pertanian dimaksud disumbangkan oleh perkebunan kelapa sawit. Harga jual TBS yang berkisar Rp2.800-Rp3.500 membuat pemilik kebun yang tanamannya sudah menghasilkan dapat memperoleh nilai tambah di situ,” jelas Aryantoni.

Menurut dia, dampak ekonomi dari komoditas tersebut juga tercermin dari semakin berkembangnya kebun sawit swadaya yang dikelola masyarakat di sejumlah wilayah Gumas.

“Hal ini terlihat juga dengan cukup masifnya muncul kebun sawit swadaya masyarakat,” sebutnya.

Perkembangan perkebunan sawit, lanjut Aryantoni, memiliki dua sisi bagi pembangunan daerah. Di satu sisi, komoditas tersebut membuka peluang peningkatan pendapatan dan nilai tambah bagi masyarakat. Di sisi lain, perluasan kebun dapat meningkatkan tekanan terhadap pemanfaatan ruang yang juga dibutuhkan untuk pengembangan pertanian pangan.

“Ini peluang sekaligus tantangan, mengingat di satu sisi ini adalah tekanan terhadap pemanfaatan ruang untuk pertanian dalam arti pangan,” tandasnya seraya menambahkan, tantangan pembangunan ke depan bukan hanya mempertahankan dominasi sektor tersebut, tapi bagaimana memastikan pertumbuhan ekonomi yang dihasilkan mampu berjalan seimbang dengan penguatan ketahanan pangan dan keberlanjutan pemanfaatan lahan. []

Redaksi 03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com