Dispar Kalsel melibatkan komunitas generasi muda dalam aksi kebersihan di Kampung Purun sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian Geopark Meratus menjelang evaluasi dan revalidasi UNESCO.
BANJARBARU – Generasi muda dilibatkan dalam upaya menjaga keberlanjutan Geopark Meratus agar tetap memenuhi standar pengakuan internasional. Keterlibatan itu diwujudkan melalui aksi kebersihan dan pelestarian di Kampung Purun, Kecamatan Cempaka, Kota Banjarbaru, Senin (21/09/2026).
Kegiatan bertajuk “Aksi Sapta Pesona Youth Geopark Meratus” tersebut digelar Dinas Pariwisata (Dispar) Kalimantan Selatan (Kalsel) dengan melibatkan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), camat, Anjungan Putra-Putri Pariwisata Kalsel, komunitas Youth Geopark, Bhabinkamtibmas, serta perwakilan Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kota Banjarbaru.
Pelibatan kelompok muda dinilai penting karena keberlanjutan kawasan geopark tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada kepedulian masyarakat yang berada di sekitar situs. Aksi kebersihan menjadi salah satu bentuk sederhana yang dapat dilakukan secara bersama untuk menjaga kondisi destinasi.
Kepala Dispar Kalsel Iwan Fitriady mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari langkah pemerintah daerah mempertahankan pengakuan internasional terhadap Geopark Meratus. Menurutnya, status tersebut membutuhkan komitmen berkelanjutan karena akan melalui proses evaluasi dan revalidasi.
“Sertifikasi dari pengakuan internasional yang diberikan oleh UNESCO itu tidak serta-merta berlaku selamanya. Nantinya akan ada validasi, revalidasi, evaluasi, dan sebagainya. Makanya, ini salah satu upaya kita untuk menghadapi evaluasi dan revalidasi dari UNESCO. Kita ingin menunjukkan kepada UNESCO bahwa Geopark Meratus layak mendapatkan pengakuan secara internasional tersebut,” kata Iwan, sebagaimana dilansir MC Kalsel, Senin (21/09/2026).
Pengakuan dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) tersebut sebelumnya ditandai dengan penyerahan piagam kepada Gubernur Kalsel di Prancis pada 2025. Status itu menjadi bagian dari tanggung jawab pemerintah dan masyarakat untuk menjaga nilai geologi, lingkungan, budaya, serta potensi ekonomi yang berada di kawasan geopark.
Menurut Iwan, pemilihan generasi muda sebagai bagian dari kegiatan juga dimaksudkan agar kepedulian terhadap kelestarian lingkungan dapat berkembang lebih luas hingga ke masyarakat sekitar situs.
“Kenapa aksinya mengambil Sapta Pesona yang ketiga, yaitu bersih-bersih? Karena, seperti kita ketahui, pelestarian destinasi wisata memerlukan peran semua pihak, terutama generasi muda. Kita berharap semangat generasi muda ini bisa ditularkan kepada yang lain, termasuk masyarakat sekitar tempat situs itu berada,” ujarnya.
Selain menjaga kelestarian lingkungan, pengembangan Geopark Meratus diarahkan untuk memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat di sekitar situs. Karena itu, keberadaan kawasan geopark tidak hanya dipandang sebagai warisan bumi yang harus dijaga, tetapi juga sebagai potensi yang dapat mendukung aktivitas ekonomi masyarakat lokal.
“Amanat dari UGGp Geopark Meratus itu sebenarnya, kalau kita simpulkan, ada dua. Pertama, kita bersama-sama memuliakan dan melestarikan warisan bumi. Kedua, harapannya, situs di mana lokasi itu berada bisa meningkatkan perekonomian warga lokal. Itu yang menjadi tujuan utama kita melalui kegiatan ini,” pungkasnya.
Upaya menjaga keberlanjutan destinasi tersebut sebelumnya juga dilakukan Dispar Kalsel melalui kegiatan serupa di kawasan wisata bawah Jembatan Barito, Kabupaten Barito Kuala. Rangkaian kegiatan di berbagai lokasi diharapkan memperkuat kesadaran bersama bahwa keberlanjutan Geopark Meratus membutuhkan keterlibatan pemerintah, komunitas, generasi muda, dan masyarakat sekitar. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan