Disdikbud Kutim memperkuat pemajuan kebudayaan melalui pelatihan teater, pembinaan Tarsul, penguatan tata kelola lembaga seni budaya, serta digitalisasi sejarah yang melibatkan pelajar.
KUTAI TIMUR – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim mulai merealisasikan sejumlah program untuk mendukung 10 Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK), mulai dari pelatihan teater bagi guru, penguatan tata kelola lembaga seni budaya, pelatihan Tarsul, hingga pengembangan konten digital sejarah bagi pelajar.
Kepala Bidang (Kabid) Kebudayaan Disdikbud Kutim Ilham mengatakan, berbagai kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya bertahap untuk menghidupkan dan memperkuat objek kebudayaan yang berkembang di daerah.
“Salah satu kegiatan yang sementara yang sudah kita lakukan seperti pelatihan teater, pelatih teater bagi guru di sekolah,” ujar Ilham usai menghadiri Seminar Laporan Pendahuluan Kajian Penulisan Buku Sejarah, Selasa (22/09/2026).
Selain pelatihan teater, Bidang Kebudayaan Disdikbud Kutim pada tahun ini juga melakukan pembenahan tata kelola lembaga seni dan budaya. Upaya tersebut diarahkan untuk memperkuat kelembagaan sebagai salah satu unsur penting dalam menjaga keberlanjutan kegiatan kebudayaan di daerah.
Program lain yang telah dijalankan adalah pelatihan Tarsul sebagai bagian dari pembinaan terhadap budaya lokal yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat Kutim.
“Kita dari bidang kebudayaan itu juga sudah menyentuh pembinaan untuk budaya-budaya yang sifatnya lokal, ya seperti Tarsul tadi,” katanya.
Tidak hanya menyasar pelaku dan lembaga kebudayaan, Disdikbud Kutim turut melibatkan pelajar melalui program digitalisasi konten sejarah. Dalam program tersebut, pelajar dibekali kemampuan mendokumentasikan dan menyajikan sejarah lokal melalui konten digital agar lebih menarik dan mudah diterima generasi muda.
“Jadi anak-anak kita dibekali dengan itu, dan sudah kita lakukan tahun ini, walaupun dengan sasaran yang belum terlalu banyak karena melihat anggaran kita juga ada efisiensi. Tapi harapan kita dari situ kita memulai, kalau starting point-nya sudah ada,” jelasnya.
Ilham mengakui jangkauan sejumlah program tersebut belum dapat diperluas karena adanya efisiensi anggaran. Meski demikian, program yang telah berjalan diharapkan menjadi titik awal bagi pengembangan pemajuan kebudayaan yang lebih luas dan berkelanjutan di Kutim.
Melalui penguatan kapasitas guru, lembaga seni budaya, pelaku budaya lokal, serta keterlibatan pelajar dalam dokumentasi sejarah, Disdikbud Kutim berharap upaya pelestarian kebudayaan tidak hanya menjaga warisan daerah, tetapi juga mendorong generasi muda untuk mengenal, mendokumentasikan, dan mengembangkan kebudayaan lokal sesuai perkembangan zaman. [] (ADV)
Penulis: Butsainah Yusri | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan