Diskominfo Kutim Kombinasikan Starlink dan Fiber Optik Jangkau Wilayah Terpencil

Diskominfo Staper Kutim memadukan jaringan fiber optik, Starlink, dan wireless point-to-point untuk memperluas konektivitas internet hingga kecamatan dan desa yang belum terjangkau infrastruktur telekomunikasi.

KUTAI TIMUR – Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (Diskominfo Staper) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) mengombinasikan jaringan Starlink, fiber optik (FO), dan wireless point-to-point untuk memperluas konektivitas internet hingga wilayah terpencil. Sebanyak 11 kecamatan telah terlayani jaringan FO, sementara Starlink dan jaringan nirkabel digunakan untuk menjangkau sekitar seratusan desa yang berada jauh dari infrastruktur telekomunikasi.

Pelaksana Tugas (Plt.) Infrastruktur Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Diskominfo Staper Kutim, M. Ihsan Hafid, mengatakan Starlink diprioritaskan untuk mendukung konektivitas kantor kecamatan yang berada di wilayah dengan keterbatasan jaringan konvensional, antara lain Sandaran dan Busang.

“Kalau Starlink itu kita ada di kecamatan yang agak-agak susah jaringan, kayak Sandaran, Busang,” ujarnya di ruang kerjanya, Kamis (24/09/2026).

Sementara itu, wilayah yang telah memiliki infrastruktur telekomunikasi memadai dilayani melalui jaringan FO dari Telkom. Ihsan menyebut 11 kecamatan di Kutim saat ini telah mendapat layanan FO.

Untuk wilayah yang belum terjangkau infrastruktur FO, Diskominfo Staper Kutim memanfaatkan Starlink serta jaringan wireless point-to-point. Kombinasi layanan tersebut digunakan untuk memperluas konektivitas hingga sekitar seratusan desa.

“Untuk sisanya menggunakan layanan Starlink karena memang sangat jauh dari jangkauan infrastruktur fiber optik,” katanya.

Menurut Ihsan, penggunaan Starlink di wilayah terpencil dipilih dengan mempertimbangkan efisiensi biaya operasional serta kemudahan pemeliharaan. Kendati demikian, jaringan FO dinilai memiliki tingkat kestabilan yang lebih baik karena relatif tidak terpengaruh kondisi cuaca.

“Memang biayanya itu lebih besar juga menggunakan FO, tapi itu lebih stabil karena tidak terganggu dengan kondisi cuaca,” ungkapnya.

Selain kantor kecamatan dan desa, pemanfaatan Starlink sebelumnya juga dilakukan untuk mendukung konektivitas sekolah serta Pusat Kesehatan Masyarakat Pembantu (Pustu). Sejak 2025, pengelolaan anggaran layanan internet pada fasilitas tersebut mulai dialihkan kepada perangkat daerah sesuai sektor masing-masing.

Starlink yang digunakan sekolah kini dikelola melalui Dinas Pendidikan (Disdik) Kutim, sedangkan layanan pada fasilitas kesehatan dialihkan kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutim. Diskominfo Staper Kutim saat ini masih mengelola Starlink yang terpasang di sejumlah Unit Pelaksana Teknis (UPT).

“Termasuk yang ada di 191 sekolah itu menggunakan Starlink yang memang sudah aset di Kominfo, tapi dimanfaatkan sama Dinas Pendidikan untuk pengisian kuotanya, karena anggarannya sudah beralih ke Dinas Pendidikan,” pungkasnya.

Penerapan kombinasi FO, Starlink, dan jaringan wireless point-to-point diharapkan dapat memperkecil kesenjangan akses internet antara wilayah yang telah memiliki infrastruktur telekomunikasi memadai dengan kecamatan maupun desa terpencil di Kutim. []

Penulis: Butsainah Yusri | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *