Sebanyak 94 tim dari 43 perguruan tinggi menguji teknologi wahana udara nirawak di KRTI 2026, sementara inovasi yang dikembangkan didorong agar tidak berhenti di arena kompetisi dan dapat memberi manfaat bagi masyarakat.
NUSANTARA – Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2026 menjadi ruang pengujian inovasi teknologi wahana udara nirawak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) mahasiswa yang dinilai sejalan dengan pengembangan Ibu Kota Nusantara (IKN) sebagai kota cerdas, hijau, dan berkelanjutan. Sebanyak 94 tim dari 43 perguruan tinggi menguji teknologi, strategi, dan kemampuan adaptasi mereka selama kompetisi yang berlangsung di IKN pada 21-25 September 2026.
Kompetisi selama lima hari tersebut mempertandingkan lima divisi, yakni Racing Plane, Fixed Wing, Vertical Take Off Landing (VTOL), Long Endurance Low Altitude (LELA), dan Technology Development. Pengujian mencakup kemampuan terbang, desain wahana, strategi, pengembangan teknologi, hingga kemampuan peserta menyesuaikan rancangan dengan kondisi lapangan.
Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK) Agus Rubiyanto mengatakan, KRTI tidak sekadar menjadi arena perebutan trofi, melainkan tempat mahasiswa menguji gagasan sekaligus implementasi teknologi.
“KRTI ini bukan hanya sekedar kompetisi biasa untuk memperebutkan trofi kejuaraan, tetapi sarana pengujian gagasan dan aplikasi. Kalau kita lihat dari awal pertama, Bapak dan Ibu sekalian kemarin kita melihat betapa luar biasanya adik-adik kita. Mulai dari teknologi development, lalu race plane gitu ya, fixed wing, kemudian VTOL, LELA, alhamdulillah saya bisa mengikuti Semua kegiatan yang ada,” ujarnya.
Menurut Agus, pengembangan teknologi penerbangan tanpa awak memiliki keterkaitan dengan arah pembangunan IKN. Penguasaan teknologi tersebut dinilai penting untuk mendukung kebutuhan sebuah kota masa depan yang mengedepankan pemanfaatan teknologi dan keberlanjutan.
“Tentu saja hal ini berkorelasi dengan pembangunan Ibu Kota Nusantara yang tepat di sini dengan konsep smart, green dan sustainable city. Dalam mewujudkan kota masa depan, memang dibutuhkan penguasaan teknologi penerbangan tanpa awak oleh sebab itu, peran adik-adik di sini sangat krusial sekali. Maka selama ini kalau kita belum pernah ke Ibu Kota Nusantara beritanya itu simpang siur,” jelas Agus.
Ia berharap pengalaman mahasiswa selama mengikuti kompetisi di IKN tidak berhenti di arena perlombaan, tetapi turut membawa semangat inovasi dan pemahaman mengenai konsep kota masa depan ke perguruan tinggi masing-masing.
“Tapi begitu kita melihat di sini betapa luar biasanya ibu kota Nusantara. Harapan kami, nanti adek-adek dengan membawa semangat inovasi. Semangat-smart dan forest city-nya IKN ini dibawa ke rumah masing-masing,” lanjutnya.
Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Beny Bandanadjaja juga menekankan bahwa KRTI merupakan ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk menghadapi persoalan nyata yang tidak selalu sama dengan kondisi saat perancangan teknologi di kampus.
“KRTI bukan tentang siapa yang menjadi pemenang, kompetisi ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar memecahkan masalah menguji gagasan, bekerja dalam tim, mengambil keputusan dan menghadapi berbagai kondisi yang tidak selalu sesuai dengan rencana. Artinya situasi ketika adik-adik mahasiswa merancang di kampus dengan kondisi lapangan di IKN itu tentunya sesuatu yang berbeda,” ujarnya, sebagaimana diberitakan [Nama Sumber], Jumat, (25/09/2026).
Beny berharap inovasi yang lahir dari kompetisi tersebut dapat terus dikembangkan setelah KRTI berakhir sehingga tidak berhenti sebatas prototipe atau capaian perlombaan.
“Kemudian yang tidak kalah penting, kita berharap semoga seluruh teknologi yang dikembangkan dalam KRTI ini itu bisa diteruskan. Tidak hanya dilaksanakan pada hari ini,” ungkapnya.
Ia mengatakan semangat tersebut sejalan dengan konsep kampus berdampak, yakni mendorong mahasiswa menggunakan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan teknologi untuk membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi masyarakat.
“Semangat itu terus kita dorong melalui semangat kampus berdampak. Artinya bagaimana mahasiswa bisa hadir untuk di bisa menyelesaikan permasalahan di masyarakat. Tidak hanya ditujukan melalui prestasi atau juara di arena kompetisi, tetapi juga melalui kemampuan bagaimana pengetahuan dan keterampilan serta teknologi tersebut dapat dibawa ke masyarakat, itulah juara yang sesungguhnya bagaimana hasil yang kita peroleh itu bisa bermanfaat bagi masyarakat,” tambahnya.
Kepala Otorita IKN Basuki Hadimuljono menyampaikan apresiasi kepada perguruan tinggi, penyelenggara, dan mahasiswa yang telah berpartisipasi dalam penyelenggaraan KRTI 2026 di IKN.
“Atas nama Otorita IKN, terima kasih semuanya sudah mengadakan acara kompetisi ini di IKN. Terima kasih Pak Rektor ITK dan terima kasih Pak Direktur Belmawa, semuanya saya kira happy, terima kasih sekali lagi atas acara ini dan mohon maaf apabila dalam penerimaan kami ada yang kurang berkenan semoga kita ketemu lagi di KRTI 2027 somewhere, terima kasih semuanya hebat! Indonesia hebat! mahasiswa Indonesia, mahasiswa Indonesia hebat! Mahasiswa Indonesia hebat, I love you all,” ujar Basuki.
Pada akhir kompetisi, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) keluar sebagai Juara Umum KRTI 2026. ITS menerima piala bergilir Danadyaksa Dirgantara dalam acara penutupan dan penganugerahan KRTI 2026, Jumat (25/09/2026) malam.
Piala tersebut diserahkan Basuki bersama Beny, Agus, dan Koordinator Dewan Juri Mona Arif Muda. Hasil kompetisi sekaligus menutup rangkaian KRTI 2026 yang mempertemukan puluhan perguruan tinggi dalam pengembangan teknologi UAV, dengan harapan inovasi mahasiswa dapat terus dikembangkan dan memberi manfaat di luar arena kompetisi. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan