Gangguan ekspor minyak akibat konflik AS-Iran dan ketegangan di Selat Hormuz diperkirakan membuat Irak kehilangan pendapatan hingga hampir US$50 miliar.
BAGHDAD – Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai memberikan dampak ekonomi signifikan terhadap Irak. Gangguan ekspor minyak akibat ketegangan di Selat Hormuz diperkirakan telah menyebabkan negara tersebut kehilangan pendapatan hingga mendekati US$50 miliar atau sekitar Rp896 triliun.
Kerugian itu dipicu merosotnya ekspor minyak setelah Iran memberlakukan blokade di Selat Hormuz, jalur utama pengiriman minyak kawasan. Kondisi tersebut memaksa Irak mengurangi produksi di sejumlah ladang minyak karena penumpukan cadangan akibat distribusi yang terhambat.
Penasihat Keuangan Perdana Menteri Irak, Muzhar Saleh, mengatakan penurunan ekspor minyak telah memberikan tekanan besar terhadap perekonomian nasional.
“Bagi Irak, karena penurunan ekspor minyak mencapai 90 persen… ditambah penurunan tingkat pertumbuhan… kerugian diperkirakan mencapai antara US$40 miliar (sekitar Rp716 triliun) hingga US$45 miliar (sekitar Rp806 triliun) per Juni 2026,” kata Saleh, sebagaimana dikutip Agence France-Presse (AFP) dan diberitakan CNN Indonesia, Kamis (23/07/2026).
Menurut Saleh, nilai kerugian berpotensi meningkat hingga mencapai sekitar US$50 miliar apabila perang dan sengketa di Selat Hormuz terus berlangsung.
Seorang pejabat pemerintah Irak lainnya yang tidak disebutkan namanya juga memperkirakan total kerugian negara lebih mendekati US$50 miliar. Penurunan ekspor minyak disebut menjadi penyebab utama melemahnya penerimaan negara.
Menteri Perminyakan Irak, Bassem Mohammed Khudair, mengungkapkan pendapatan negara dari sektor minyak mengalami penurunan tajam dibandingkan kondisi sebelum konflik.
“Saat ini, tidak lebih dari US$1,5 miliar (sekitar Rp27 triliun).”
Sebelum perang berlangsung, Irak memproduksi sekitar empat juta barel minyak per hari dengan rata-rata ekspor mencapai 3,5 juta barel per hari. Sebagian besar pengiriman dilakukan melalui Selat Hormuz yang kini terdampak konflik.
Untuk menjaga kelangsungan ekspor, Irak mulai mengalihkan distribusi minyak mentah menggunakan truk tangki melalui Suriah serta kembali memanfaatkan jalur pipa menuju Pelabuhan Ceyhan di Turki dalam kapasitas terbatas.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa eskalasi konflik AS-Iran tidak hanya memengaruhi negara yang terlibat secara langsung, tetapi juga memberikan tekanan ekonomi terhadap negara-negara mitra di kawasan yang bergantung pada stabilitas jalur perdagangan energi internasional. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan