KUTAI TIMUR — Banjir kembali menjadi momok bagi warga RT 11, Kelurahan Rawa Indah, Kecamatan Sangatta Utara. Sejak Kamis (05/02/2026) pagi, genangan air mulai meluas dari halaman rumah warga hingga menutup akses jalan utama kawasan tersebut, seiring meningkatnya debit air sungai akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Sangatta sejak dua hari terakhir.
Air dilaporkan mulai naik signifikan sejak dini hari. Curah hujan yang tinggi membuat sungai tidak lagi mampu menampung debit air dari hulu. Kondisi ini menyebabkan luapan yang langsung merambah kawasan permukiman dataran rendah, dengan RT 11 menjadi salah satu titik paling terdampak.
Sejumlah warga menyebut banjir kali ini datang lebih cepat dibanding sebelumnya. Dalam hitungan jam, air merendam pekarangan rumah, menutup ruas jalan lingkungan, dan menyulitkan mobilitas warga. Beberapa kendaraan terpaksa memperlambat laju, bahkan memilih putar balik karena ketinggian genangan.
Salah seorang warga Rawa Indah, Ikip, mengungkapkan bahwa air mulai masuk ke halaman rumah sejak subuh. Ia menyebut hujan deras yang turun sepanjang malam membuat warga tidak sempat bersiap lebih awal.
“Pagi-pagi air sudah naik. Hujannya deras sekali sejak malam, dan sekarang jalanan sudah tergenang,” katanya.
Selain faktor hujan, meluapnya aliran sungai dari arah hulu disebut menjadi penyebab utama banjir. Aliran air yang terus bertambah membuat bantaran sungai tidak mampu menahan debit, diperparah dengan sistem drainase lingkungan yang belum optimal menyalurkan air dalam waktu singkat.
Aktivitas warga pun terganggu. Sebagian memilih bertahan di rumah sambil memantau ketinggian air, sementara lainnya mulai memindahkan perabot dan barang berharga ke tempat yang lebih tinggi sebagai langkah antisipasi.
Hingga Kamis siang, belum ada data resmi terkait jumlah rumah terdampak. Namun, genangan dilaporkan muncul di sejumlah titik strategis kawasan Rawa Indah, baik di permukiman maupun jalur penghubung antarwilayah.
Di sisi lain, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Timur terus melakukan pemantauan intensif. Kepala BPBD Kutim, Sulastin, menyampaikan bahwa tim lapangan telah disebar ke sejumlah titik rawan banjir sejak pagi.
“Kami menempatkan petugas di area permukiman, bantaran sungai, hingga kawasan bekas galian tambang. Ketinggian air terus kami pantau karena pergerakannya fluktuatif, bisa naik dan turun dalam siklus beberapa jam,” ujar Sulastin.
Menurutnya, pemantauan berkelanjutan diperlukan mengingat potensi hujan masih tinggi. Selain permukiman warga, genangan juga terjadi di kawasan pertambangan, termasuk di area jalan tambang dan bekas galian, yang kerap berfungsi sebagai cekungan penampungan air.
“Di wilayah bekas galian, air memang cepat menggenang. Ini menjadi titik rawan setiap musim hujan dan berdampak pada akses warga,” jelasnya.
BPBD Kutim juga telah berkoordinasi dengan relawan kecamatan, aparat kelurahan, serta unsur terkait untuk memastikan respons cepat jika kondisi memburuk. Berdasarkan laporan sementara, genangan di beberapa titik sempat surut dalam waktu sekitar tiga jam, namun kembali naik seiring hujan susulan.
Sulastin menegaskan bahwa banjir ini merupakan kejadian tahunan yang dipicu kombinasi curah hujan tinggi dan kondisi bekas galian tambang.
“Struktur tanah dan cekungan bekas tambang membuat air tertahan lebih lama. Dengan kondisi cuaca ekstrem seperti sekarang, risiko genangan memang meningkat,” ujarnya.
BPBD Kutim berencana melakukan koordinasi lintas sektor, termasuk dengan perusahaan tambang, guna membahas langkah penanganan jangka pendek dan solusi jangka panjang agar banjir tidak terus berulang.
“Kami akan duduk bersama pihak terkait untuk mencari solusi konkret. Penanganan tidak bisa hanya bersifat darurat, perlu langkah berkelanjutan,” tegasnya.
BPBD juga mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama bagi yang tinggal di bantaran sungai, dataran rendah, dan sekitar bekas galian tambang. Jika terjadi kenaikan air signifikan, warga diminta segera melapor ke aparat setempat atau BPBD. []
Redaksi4
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan