BUMDes Bendang Raya Kembangkan Empat Unit Usaha Produktif

KUTAI KARTANEGARA — Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Bendang Raya, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), terus mengembangkan berbagai unit usaha produktif sebagai upaya mendorong kemandirian ekonomi desa sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat. Hingga tahun 2026, BUMDes Bendang Raya tercatat telah menjalankan empat unit usaha yang meliputi usaha air isi ulang, penggemukan sapi, budidaya ikan nila, serta budidaya tanaman hortikultura berupa bawang prei dan seledri.

Pengembangan unit usaha tersebut menjadi salah satu langkah strategis pemerintah desa dalam mengoptimalkan potensi lokal yang dimiliki desa sekaligus memperkuat peran BUMDes sebagai penggerak ekonomi masyarakat.

Direktur BUMDes Bendang Raya, Syahriansyah, menjelaskan bahwa seluruh program usaha yang dijalankan merupakan hasil sinergi antara pemerintah desa dengan dukungan dari sejumlah dinas terkait di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara.

Hal tersebut disampaikannya saat ditemui di Desa Bendang Raya, Kecamatan Tenggarong, pada Rabu (04/03/2026).

Menurut Syahriansyah, salah satu unit usaha yang saat ini telah berjalan adalah usaha air isi ulang. Program tersebut merupakan bagian dari pengembangan layanan kebutuhan dasar masyarakat yang didukung melalui penyertaan dana desa pada tahun 2025.

Usaha air isi ulang tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan masyarakat terhadap air minum yang bersih dan terjangkau sekaligus menjadi sumber pendapatan baru bagi desa.

“Unit usaha air isi ulang ini menggunakan penyertaan dana desa tahun 2025 dengan total biaya sebesar Rp32.944.000. Selain memberikan pelayanan air minum yang lebih terjangkau bagi masyarakat, usaha ini juga diharapkan mampu memberikan kontribusi terhadap pendapatan desa,” ujarnya.

Usaha Isi Ulang BUMDes Bendang Raya

Selain usaha air isi ulang, BUMDes Bendang Raya juga mengembangkan unit usaha penggemukan sapi yang didukung melalui penyertaan dana dari Dinas Ketahanan Pangan pada tahun 2026. Program ini menjadi bagian dari upaya pemerintah desa untuk memperkuat sektor peternakan sekaligus mendukung ketahanan pangan di tingkat desa.

Untuk menjalankan program penggemukan sapi tersebut, total anggaran yang dialokasikan mencapai Rp58.200.000. Dana tersebut digunakan untuk pengadaan ternak serta memenuhi berbagai kebutuhan operasional selama proses penggemukan berlangsung.

Syahriansyah menjelaskan bahwa program penggemukan sapi tidak hanya bertujuan menghasilkan keuntungan secara ekonomi, tetapi juga menjadi sarana pemberdayaan masyarakat desa agar memiliki keterampilan di bidang peternakan.

“Program ini bukan hanya untuk menghasilkan keuntungan, tetapi juga sebagai upaya meningkatkan kapasitas masyarakat desa di bidang peternakan,” jelas Syahriansyah.

Unit usaha penggemukan sapi BUMDes Bendang Raya

Sementara itu, dua unit usaha lainnya yang direncanakan oleh BUMDes Bendang Raya, yakni budidaya ikan nila serta budidaya tanaman hortikultura berupa bawang prei dan seledri, saat ini masih berada dalam tahap persiapan.

Program tersebut juga bersumber dari penyertaan dana Dinas Ketahanan Pangan pada tahun 2026 yang diarahkan untuk memperkuat sektor pangan desa sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

budidaya Ikan Nila BUMDes Bendang Raya

Menurut Syahriansyah, pemilihan usaha budidaya ikan nila serta tanaman hortikultura didasarkan pada potensi lingkungan desa yang dinilai cukup mendukung pengembangan sektor tersebut. Selain itu, komoditas tersebut juga memiliki peluang pasar yang cukup baik di wilayah Kutai Kartanegara.

“Untuk budidaya ikan nila dan tanaman bawang prei serta seledri saat ini masih dalam tahap persiapan. Ke depan diharapkan usaha ini dapat memberikan tambahan sumber pendapatan bagi BUMDes dan masyarakat,” katanya.

Budidaya Tanaman Hortikultura Bawang Prei dan Seledri BUMDes Bendang Raya

Dalam pengelolaan usaha yang bersumber dari dana ketahanan pangan (Ketapang), BUMDes Bendang Raya juga menerapkan sistem pembagian hasil dari keuntungan usaha yang dihasilkan.

Skema pembagian hasil tersebut dirancang agar memberikan manfaat yang seimbang bagi berbagai pihak, termasuk pengelola usaha, desa, serta pengembangan usaha di masa mendatang.

Adapun pembagian keuntungan dari program yang bersumber dari dana Ketapang tersebut meliputi 70 persen untuk pengelola, 10 persen untuk Pendapatan Asli Desa (PAD), 5 persen dialokasikan untuk pengembangan modal usaha, serta 15 persen untuk BUMDes.

Dengan skema pembagian hasil tersebut, diharapkan setiap unit usaha yang dijalankan dapat berkembang secara berkelanjutan sekaligus memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat desa.

Syahriansyah menambahkan bahwa pengembangan berbagai unit usaha tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat peran BUMDes sebagai motor penggerak ekonomi desa.

Melalui pengelolaan usaha yang produktif dan berkelanjutan, BUMDes Bendang Raya diharapkan dapat terus membuka peluang usaha baru serta memberdayakan masyarakat desa dalam berbagai sektor ekonomi.

“Harapannya, usaha-usaha ini bisa berjalan dengan baik, berkembang, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa Bendang Raya,” pungkasnya. []

Penulis: Anggi Triomi | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com