Pemkab Agam menghentikan sementara operasional dapur SPPG di Palupuh setelah 334 penerima MBG di tiga nagari mengalami gejala dugaan keracunan, sementara Dinkes dan BPOM melakukan investigasi.
SUMATERA BARAT – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Agam, Sumatera Barat (Sumbar), menghentikan sementara operasional dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Palupuh setelah 334 penerima manfaat di tiga nagari mengalami gejala dugaan keracunan. Dinas Kesehatan (Dinkes) bersama Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) kini menginvestigasi penyebab kejadian tersebut.
Dapur yang dihentikan sementara itu adalah Yayasan Affa Adicitta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pasia Laweh di Kecamatan Palupuh. Pemkab Agam meminta operasional dapur dihentikan hingga hasil pemeriksaan terhadap makanan dan penyebab dugaan keracunan diketahui.
Wakil Bupati (Wabup) Agam Muhammad Iqbal membenarkan adanya dugaan keracunan yang dikaitkan dengan makanan dari dapur MBG di Palupuh.
“Benar adanya terkait dugaan keracunan, kita menduga setelah mengkonsumsi makanan dari dapur MBG yang ada di Palupuh,” ucap Iqbal kepada wartawan.
“Saat ini antara Dinas Kesehatan dan BPOM sudah kordinasi untuk investigasi memastikan penyebabnya,” jelasnya.
Menurut Iqbal, penghentian sementara operasional dapur diperlukan selama proses investigasi berlangsung.
“Untuk sementara, kita meminta agar dapur MBG tidak beroperasi dulu sampai hasil investigasi keluar,” kata Wabup Iqbal.
Hasil investigasi Dinkes dan BPOM diperkirakan dapat diketahui dalam waktu sekitar satu pekan.
“Perkiraan hasil keluar dalam satu minggu,” tegas Wabup Agam.
Pemkab Agam juga belum menetapkan kejadian tersebut sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Pemerintah daerah masih menunggu hasil investigasi untuk memastikan penyebab gejala yang dialami ratusan penerima manfaat.
“Kita menunggu hasil investigasi dari BPOM dan dinas terkait terlebih dahulu,” tambahnya.
Camat Palupuh Nong Rianto mengatakan, korban berasal dari tiga nagari di wilayah kecamatan tersebut, yakni Nagari Nan Limo, Pasia Laweh, dan Koto Rantang.
“Korban tidak hanya dari satu daerah, tapi tiga nagari. Nagari yang terdampak di Palupuh, Nagari Nan Limo, Pasia Laweh, dan Koto Rantang. Totalnya (sementara) 334 orang,” katanya kepada wartawan, sebagaimana diberitakan Cnn Indonesia, Rabu, (02/09/2026).
Para penerima manfaat mulai mengalami gejala pada Selasa (01/09/2026) sekitar pukul 10.00 Waktu Indonesia Barat (WIB). Gejala yang dilaporkan antara lain demam, pusing, mual, muntah, hingga diare. Para korban kemudian mendapatkan penanganan medis di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Palupuh dan sejumlah rumah sakit di Bukittinggi.
Kepala Sekolah Dasar (SD) Negeri 08 Nan Limo Jonnedi mengatakan, para siswa sebelumnya mengonsumsi MBG pada Senin (31/8/2026) dan tidak langsung mengalami keluhan. Gejala baru dirasakan pada keesokan harinya.
“Anak-anak ini mengonsumsi MBG pada Senin (31/8) lalu dan tidak ada kendala. Namun pada Selasa (1/9) sekira pukul 10.00 WIB lebih, mulai merasakan gejala keracunan, tapi saya tidak bisa memastikan apakah itu akibat mengonsumsi MBG,” sebut Jonnedi, Kepala SD Negeri 08 Nan Limo, salah satu lokasi yang murid sekolah mengalami keracunan.
Di SD Negeri 08 Nan Limo, jumlah siswa yang mengalami gejala bertambah dari 21 orang menjadi 54 orang. Mereka mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan di puskesmas.
“Kalau yang dirawat tidak ada, cuma berobat saja ke puskesmas. Kalau kemarin ada 21 siswa, hari ini menjadi 54 orang,” tambahnya.
Data sementara pemerintah kecamatan menyebut korban dugaan keracunan berasal dari kalangan siswa dan guru sekolah dasar serta Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 Palupuh. Namun, penyebab pasti keluhan kesehatan yang dialami ratusan orang tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan Dinkes dan BPOM.
Wali Nagari Koto Rantang Novri Agus Parta Wijaya menyebut makanan MBG yang dikonsumsi para penerima manfaat berasal dari satu dapur SPPG di Palupuh. Temuan tersebut menjadi bagian yang akan didalami dalam proses investigasi.
Dengan penghentian sementara dapur SPPG, Pemkab Agam menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan investigasi untuk menentukan penyebab kejadian, kelanjutan operasional pelayanan MBG, serta langkah berikutnya terhadap ratusan penerima manfaat yang terdampak. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan