Pemkab TTU mendukung langkah keluarga Dokter Icha mencari keadilan setelah kematiannya diduga berkaitan dengan tekanan psikologis usai insiden di IGD RS Leona.
NUSA TENGGARA TIMUR – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur (NTT), menyatakan dukungan terhadap langkah keluarga Dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni atau Dokter Icha untuk mencari keadilan setelah kematiannya diduga berkaitan dengan tekanan psikologis usai insiden di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit (RS) Leona Kefamenanu.
Bupati TTU Yosep Falentinus Delasalle Kebo mengatakan, kematian Dokter Icha membuka kembali persoalan lama terkait perilaku tidak pantas oknum anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) TTU saat menjalankan kegiatan reses, sebagaimana diberitakan Cnnindonesia, Sabtu, (27/06/2026).
“Kejadian dr Icha ini membuka tabir yang selama ini tertutup rapat,” ujar Yosep, Sabtu (27/06/2026) malam.
“Oknum yang sering ketika melakukan reses sebelum dan sesudah reses itu melakukan kekacauan oleh karena pengaruh alkohol,” imbuhnya.
Yosep menyayangkan dugaan perilaku tidak pantas yang menyeret nama anggota DPRD TTU tersebut. Ia menegaskan Pemkab TTU mendukung upaya keluarga korban agar kasus itu diproses secara terang.
“Kami akan mendukung segala upaya yang diambil keluarga dalam rangka memperoleh keadilan,” kata Yosep.
Dokter Icha merupakan dokter putri daerah binaan beasiswa Pemerintah Daerah (Pemda) TTU. Ia bertugas di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Bitefa dan turut membantu pelayanan di IGD RS Leona.
Dugaan tekanan terhadap Dokter Icha disebut terjadi saat ia bertugas di IGD RS Leona untuk menangani pasien anak korban gigitan ular hijau. Saat itu, sejumlah anggota DPRD TTU disebut mendatangi IGD dan berbicara dengan nada keras.
Paman korban, Victor Manbait, menyebut Dokter Icha masih mengalami tekanan setelah peristiwa tersebut.
“Dokter Icha masih mengalami ketakutan dan tekanan psikologis akibat bentakan yang diterimanya saat bertugas,” ungkap paman korban, Victor Manbait, Jumat (26/06/2026).
Juru bicara keluarga, Fabianus Banase, mengatakan insiden bermula ketika dua anggota DPRD TTU, Norbertus Tubani dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Therensius Lazakar dari Golongan Karya (Golkar), mendatangi IGD RS Leona terkait penanganan pasien anak dengan gigitan ular.
Fabianus menyebut keluarga mendapat keterangan dari sejumlah saksi serta dokumentasi terkait kejadian tersebut.
“Saat membentak (Icha) itu bau alkohol. Ada juga fotonya yang dikirimkan kepada kami sebagai keluarga,” kata Fabianus.
Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) TTU Eliana Papote mengatakan, Kepolisian Resor (Polres) TTU telah memeriksa sejumlah rekan Dokter Icha yang berada di IGD RS Leona saat peristiwa dugaan intimidasi terjadi. Polisi juga akan memanggil anggota DPRD TTU untuk dimintai klarifikasi.
“Kami dari Polres belum mendapatkan laporan. Namun, berdasarkan berita viral yang sudah tersebar di media sosial, kami sudah melakukan beberapa tindakan kepolisian,” ujar Eliana.
Polres TTU juga akan berkoordinasi dengan pimpinan DPRD TTU terkait pengaduan keluarga korban di Badan Kehormatan (BK) DPRD TTU. Selain itu, polisi akan melengkapi alat bukti, termasuk rekam medis almarhumah saat dirawat di RS Leona TTU serta hasil pemeriksaan psikologis dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Ben Mboi.
Tiga anggota DPRD TTU yang disebut dalam kasus tersebut belakangan membantah telah mengintimidasi Dokter Icha. Dua di antaranya mengaku hanya menaikkan nada bicara karena panik.
Kasus ini menjadi sorotan publik karena menyangkut perlindungan tenaga kesehatan saat bertugas, etika pejabat publik, serta pentingnya penanganan dugaan tekanan psikologis secara serius. Aparat diharapkan mengusut kasus ini secara transparan agar keluarga korban memperoleh kepastian hukum. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan