Empat Tuntutan Iran Jadi Penghambat Pembukaan Selat Hormuz

Iran mensyaratkan penghentian blokade, pencabutan sanksi, pembebasan aset, dan pembayaran kompensasi perang sebelum Selat Hormuz kembali dibuka untuk pelayaran komersial.

JAKARTA – Iran belum membuka kembali Selat Hormuz untuk pelayaran komersial karena masih menunggu pemenuhan sejumlah tuntutan terhadap Amerika Serikat (AS), mulai dari penghentian blokade pelabuhan hingga pembayaran kompensasi atas kerusakan akibat perang. Persyaratan tersebut menjadi salah satu faktor yang menghambat kepastian normalisasi lalu lintas kapal di jalur strategis perdagangan energi dunia itu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan Teheran meminta AS menghentikan blokade terhadap pelabuhan Iran, mencabut sanksi ekonomi, membebaskan aset Iran yang dibekukan, serta membayar kompensasi atas kerusakan akibat perang.

“Pihak AS harus menghentikan dan memperbaiki tindakannya yang ilegal dan merusak,” kata Baghaei. Ia menegaskan pembukaan kembali selat bergantung pada terpenuhinya tuntutan tersebut, sebagaimana diberitakan Reuters, Senin, (10/08/2026).

Sikap Iran tersebut membuat pembukaan kembali Selat Hormuz tidak hanya bergantung pada kesiapan teknis jalur pelayaran, tetapi juga perkembangan hubungan antara Teheran dan Washington. Iran sebelumnya menyatakan selat itu akan tetap tertutup hingga sanksi serta ancaman militer AS dihentikan dan kompensasi atas kerusakan akibat perang dibayarkan.

Di sisi lain, Iran dan Oman terus membahas pengaturan pelayaran di kawasan tersebut. Baghaei menyebut pembicaraan kedua negara pada Senin berlangsung “lancar dan konstruktif”. Keduanya telah menyepakati peta jalur pelayaran, meskipun masih terdapat sejumlah persoalan teknis yang harus diselesaikan.

“Kami telah mencapai kesepakatan mengenai peta jalur pelayaran,” kata Baghaei. Pembahasan juga mencakup “navigasi yang aman, perlindungan lingkungan, layanan maritim dan pemberantasan kejahatan”.

Iran juga sebelumnya menyatakan rencana mengenakan biaya kepada kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Namun, AS berulang kali menolak kesepakatan yang memungkinkan Teheran menarik biaya atas akses menuju jalur pelayaran tersebut.

Tuntutan Iran disebut sebagian besar sejalan dengan ketentuan dalam kesepakatan perdamaian awal yang ditandatangani pada Juni. Namun, kesepakatan tersebut kemudian gagal dilaksanakan sehingga persoalan mengenai pembukaan kembali selat masih berlanjut.

Selat Hormuz memiliki posisi penting dalam perdagangan energi global. Sebelum konflik berlangsung, sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati jalur tersebut. Karena itu, berlarutnya penutupan selat berpotensi terus memengaruhi kelancaran distribusi energi dan pelayaran komersial internasional.

Dengan masih adanya tuntutan politik dan ekonomi terhadap AS serta persoalan teknis pelayaran yang belum seluruhnya selesai, pembukaan kembali Selat Hormuz belum memiliki kepastian. Penyelesaian kedua aspek tersebut menjadi penentu bagi pemulihan aktivitas pelayaran komersial di salah satu jalur energi paling strategis dunia. []

Redaksi1

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com