GPM Bantu Warga Tarakan Hemat Belanja Kebutuhan Pokok

Selisih harga gula dan minyak goreng di GPM dinilai membantu warga Tarakan mengendalikan pengeluaran rumah tangga di tengah pendapatan yang tidak selalu tetap.

TARAKAN – Selisih harga kebutuhan pokok membuat Gerakan Pangan Murah (GPM) menjadi pilihan sebagian warga Tarakan untuk menekan pengeluaran rumah tangga. Bagi keluarga dengan pendapatan yang tidak selalu tetap, perbedaan harga beberapa ribu rupiah dinilai cukup berarti ketika kebutuhan tersebut harus dibeli secara rutin.

Kondisi itu salah satunya dirasakan Muliati, warga RT 32, yang memilih berbelanja di lokasi GPM setelah mengetahui harga komoditas yang ditawarkan lebih rendah daripada harga di toko. Ia sebelumnya berniat membeli kebutuhan rumah tangga di toko, tetapi mengubah tujuan setelah melintas di lokasi kegiatan.

“Ya, kebetulan lewat, aku singgah. Tadinya mau beli juga, kayak gula. Tapi kudengar ada murah di sini, jadi enggak jadi ke situ. Sini lah beli,” ujarnya, Rabu (16/09/2026).

Muliati mengatakan harga gula dalam kegiatan tersebut sekitar Rp16 ribu per kilogram, sedangkan harga yang biasa ditemuinya di toko mencapai sekitar Rp20 ribu per kilogram. Ia juga membeli minyak goreng karena kedua komoditas tersebut merupakan kebutuhan rutin keluarganya.

“Kalau biasanya harus mengeluarkan sekitar Rp 37 ribu, sedangkan dalam kegiatan GPM harganya sekitar Rp 28 ribu. Kalau dihitung ada selisih sekitar Rp 9 ribu,” jelasnya.

Sebagaimana diberitakan Tarakan, Rabu (16/09/2026), Muliati tidak memanfaatkan selisih harga itu untuk membeli dalam jumlah besar. Ia memilih membeli masing-masing satu sesuai kebutuhan dan kemampuan belanja.

Menurut Muliati, gula yang dibeli digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk membuat kopi, sedangkan minyak goreng digunakan untuk memasak. Pembelian melalui GPM setidaknya membantu memenuhi kebutuhan rumah tangganya dalam beberapa hari.

“Dalam sebulan, kebutuhan keluarga mencapai sekitar empat kilogram gula dan dua bungkus minyak goreng. Pengeluaran harus disesuaikan dengan kondisi pendapatan yang tidak selalu sama setiap bulan,” katanya.

Muliati tinggal bersama suami, seorang anak, dan menantu sehingga terdapat empat orang dalam satu rumah. Suaminya bekerja di sektor tambak dengan penghasilan yang tidak tetap. Kondisi tersebut membuat pengeluaran kebutuhan pokok perlu disesuaikan dengan kemampuan ekonomi keluarga.

“Bapaknya kerja-kerja tambak. Iya, ndak tahu (penghasilannya), tidak tentu,” pungkasnya. []

Redaksi 03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com