Gambar Ilustrasi

Influenza A H3N2 Jadi Sorotan, Dinkes Minta Warga Tetap Waspada

TARAKAN — Isu merebaknya virus Influenza A subtipe H3N2 atau yang populer disebut “superflu” kembali menyita perhatian publik. Kekhawatiran masyarakat meningkat seiring beredarnya kabar adanya pasien meninggal dunia akibat virus tersebut di sejumlah wilayah Indonesia.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Tarakan memastikan bahwa virus Influenza A sebenarnya bukan penyakit baru. Bahkan, kasus serupa telah terdeteksi di Tarakan sejak akhir 2025, meskipun saat ini tidak ditemukan lonjakan kasus baru.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Tarakan, Rinny Faulina, menjelaskan bahwa istilah “superflu” sejatinya bukan terminologi medis. Sebutan tersebut muncul di masyarakat karena gejala yang ditimbulkan dinilai lebih berat dibandingkan flu biasa.

“Dalam dunia medis, ini dikenal sebagai influenza tipe A. Disebut superflu karena keluhannya memang lebih berat, seperti demam tinggi yang bisa mencapai di atas 39 derajat Celsius, disertai nyeri badan hebat, sakit kepala, dan rasa menggigil,” ujar Rinny saat dikonfirmasi, Jumat (09/01/2026).

Ia mengungkapkan, sepanjang November 2025 pihaknya mencatat tiga kasus influenza tipe A dengan gejala berat di Kota Tarakan. Seluruh sampel pasien telah dikirim ke laboratorium rujukan di Banjarbaru untuk pemeriksaan lanjutan.

“Hasil laboratorium memang baru keluar sekitar dua minggu kemudian. Saat hasilnya kami terima, pasien-pasien tersebut sudah dinyatakan sembuh dan tidak ada komplikasi lanjutan,” jelasnya.

Meski hingga awal 2026 belum ditemukan kasus baru, Dinkes Tarakan menegaskan tidak akan menurunkan kewaspadaan. Menurut Rinny, influenza A memiliki tingkat penularan yang relatif cepat dan sering kali tidak terdeteksi karena gejalanya menyerupai flu ringan pada tahap awal.

Ia menilai, salah satu tantangan terbesar adalah rendahnya kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan ketika mengalami gejala flu berat.

“Banyak yang menganggap cukup dengan istirahat atau minum air hangat. Padahal, jika tidak ditangani dengan tepat, virus ini bisa berbahaya, terutama bagi kelompok rentan,” katanya.

Kelompok yang dimaksud antara lain lansia, anak-anak, serta penderita penyakit penyerta. Pada kondisi imunitas rendah, infeksi influenza A dapat berkembang menjadi gangguan serius hingga berujung kematian.

“Kalau daya tahan tubuh lemah, dampaknya bisa berat. Situasinya hampir mirip dengan awal-awal pandemi Covid-19, sehingga kewaspadaan tetap harus dijaga,” tegas Rinny.

Dinkes Tarakan pun mengimbau masyarakat agar segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika mengalami demam tinggi berkepanjangan, nyeri tubuh ekstrem, atau gejala flu yang tidak kunjung membaik. []

Admin03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com