Sebanyak 13 lokasi kebakaran dan 268 titik panas terpantau di Kotim dalam sehari, dengan kebakaran terbesar di Jalan Jenderal Sudirman Sampit menghanguskan sekitar tiga hingga empat hektare lahan dekat permukiman warga.
KOTAWARINGIN TIMUR – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin dekat dengan kawasan permukiman di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng). Sepanjang Kamis (06/08/2026), sedikitnya 13 lokasi kebakaran teridentifikasi, sementara 268 titik panas (hotspot) terpantau di wilayah tersebut.
Kebakaran terluas terjadi di Jalan Jenderal Sudirman Kilometer 4, Sampit, yang berdekatan dengan Perumahan Pandawa. Api yang membesar sejak sekitar pukul 16.00 Waktu Indonesia Barat (WIB) diperkirakan telah membakar lahan seluas tiga hingga empat hektare hingga malam hari.
Lokasi kebakaran yang semakin mendekati rumah warga membuat Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) Kotim memprioritaskan pemadaman di kawasan tersebut. Personel dan peralatan terus dikerahkan untuk mencegah api menjalar ke permukiman.
Wakil Koordinator III Satgas Karhutla Kotim Rihel, sebagaimana diberitakan Antara, Jumat, (07/08/2026), mengatakan perlindungan terhadap permukiman menjadi prioritas dalam penanganan kebakaran.
“Kita prioritaskan agar api tidak terus menjalar hingga ke permukiman warga. Hingga malam hari, personel dan peralatan dikerahkan untuk memastikan kebakaran tidak merambah ke permukiman,” kata Rihel.
Petugas gabungan membutuhkan waktu lebih dari empat jam untuk melokalisasi kebakaran di Jalan Jenderal Sudirman Kilometer 4. Pemadaman berlangsung hingga malam untuk memastikan kobaran api tidak merambat ke Perumahan Pandawa.
Besarnya kobaran api sempat membuat warga khawatir. Pada malam hari, cahaya api terlihat jelas dari sekitar permukiman, sementara asap pekat menjadi salah satu tantangan bagi petugas yang melakukan pemadaman.
“Kebakaran membesar mulai sekitar pukul 16.00 WIB. Sampai malam hari, luas lahan yang terbakar diperkirakan sudah mendekati tiga sampai empat hektare,” tambah Rihel.
Pemadaman pada malam hari juga menghadapi keterbatasan penerangan dan luasnya sebaran api. Kondisi tersebut mengharuskan petugas bekerja lebih hati-hati agar tidak mengalami cedera selama menangani kebakaran.
Ancaman serupa terjadi di Jalan Pramuka, Sampit. Kebakaran yang berada cukup dekat dengan permukiman membuat warga setempat ikut bersiaga. Sejumlah warga bahkan menyiapkan peralatan pemadam sederhana untuk mengantisipasi apabila api bergerak semakin dekat ke rumah mereka.
Dari sedikitnya 13 lokasi kebakaran yang tercatat sepanjang Kamis, kebakaran di Jalan Jenderal Sudirman Kilometer 4 tercatat sebagai kejadian dengan area terdampak paling luas. Pada hari yang sama, sebanyak 268 titik panas juga terpantau di Kotim.
Satgas Karhutla Kotim terus melakukan patroli untuk mempercepat penanganan apabila ditemukan kebakaran baru. Untuk lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat, penanganan dapat dikoordinasikan dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggunakan helikopter yang disiagakan di Palangka Raya.
“Untuk kebakaran yang lokasinya sulit dijangkau tim dari jalur darat, tentu kita koordinasikan agar dibantu ditangani melalui udara dengan water bombing (pengeboman air) menggunakan helikopter BNPB yang disiagakan di Palangka Raya,” demikian Rihel.
Tingginya jumlah titik panas dan kebakaran dalam sehari membuat kewaspadaan terhadap karhutla perlu ditingkatkan, terutama di kawasan yang berdekatan dengan permukiman. Masyarakat diminta tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan kemunculan api agar kebakaran dapat ditangani sebelum meluas dan memicu kabut asap. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan