MAHAKAM ULU — Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur (Kaltim), terus memantapkan arah pembangunan pariwisata berbasis kelestarian lingkungan dan kearifan lokal. Pemerintah daerah menilai sektor pariwisata menjadi pilihan strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi tanpa merusak ekosistem hutan yang menjadi karakter utama wilayah tersebut.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Mahulu, Irawan, menjelaskan bahwa Mahulu resmi terbentuk pada 2013 dengan sejumlah pertimbangan utama. Selain sebagai daerah perbatasan negara, pembentukan kabupaten ini juga bertujuan mendekatkan pelayanan kepada masyarakat dan memperpendek rentang birokrasi.
“Mahakam Ulu ini pertama terbentuknya 2013 dengan pertimbangan 1 daerah perbatasan. Kedua, jelas bagian dari upaya pendekatan pelayanan ke masyarakat. Kemudian memperpendek rentang birokrasi dan sebagainya,” ujar Irawan, Rabu (11/02/2026).
Menurut Irawan, karakteristik Mahulu berbeda signifikan dibandingkan kabupaten lain di Kalimantan Timur, seperti Kutai Barat, Kutai Kartanegara, maupun kota-kota besar seperti Samarinda, Balikpapan, dan Bontang. Ia menyebut sekitar 80 persen wilayah Mahulu merupakan kawasan hutan, sementara 20 persen lainnya merupakan kawasan nonhutan. Selain itu, posisinya berada di hulu Sungai Mahakam dan berstatus sebagai daerah penyangga yang memiliki kewajiban menjaga dan melindungi lingkungan hidup.
Kondisi tersebut, lanjutnya, menjadi dasar kebijakan pembangunan daerah yang tidak bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam. Pemerintah kabupaten berupaya mengembangkan ekonomi tanpa mengorbankan keseimbangan ekosistem, terutama karena dampak kerusakan lingkungan di hulu akan berpengaruh hingga ke wilayah hilir.
“Sehingga itu menjadi motivasi utama kita agar daerah ini bisa berkembang, bisa bertumbuh secara ekonomi baik secara kewilayahan, daerah, maupun masyarakatnya tidak dengan mengeksploitasi dan mengekstraksi sumber daya alam,” katanya.
Irawan menegaskan, Mahulu diarahkan untuk mengedepankan sektor pariwisata sebagai penggerak utama roda perekonomian daerah. Menurutnya, pendekatan ini sejalan dengan karakter wilayah yang kaya akan potensi alam, budaya, dan tradisi.
“Mahakam Ulu menjadi daerah yang mengedepankan sektor kepariwisataan menjadi penggerak utama roda perekonomian Mahakam Ulu. Karena tadi kalau kita mengekstraksi sumber daya alam otomatis akan berdampak secara lingkungan, secara ekosistem dan mempengaruhi bagian hilirnya. Merusak tatanan ekosistem,” ujarnya.
Sejumlah destinasi alam menjadi daya tarik utama, terutama kawasan riam atau jeram yang kerap muncul dalam pencarian daring tentang Mahulu. Selain itu, budaya Hudok juga menjadi ikon daerah yang dikenal luas.
“Kalau ketika searching di Googling itu Mahakam Ulu itu yang dilihat adalah hudoknya. Jadi ada budaya hudok atau kesenian hudok. Aspek-aspek itu yang kita dorong ke depan menjadi destinasi unggulan pariwisata daerah,” katanya.
Irawan menyebut hampir setiap kecamatan di Mahulu memiliki potensi destinasi unggulan. Meski belum ada penetapan resmi, pemerintah daerah berencana segera menetapkan kawasan prioritas sebagai destinasi unggulan pariwisata daerah.
“Memang saat ini belum ada penetapan. Tapi dalam waktu dekat kita akan lakukan penetapan kawasan yang menjadi destinasi unggulan pariwisata daerah,” ujarnya.
Destinasi yang dikembangkan mencakup kawasan alami maupun buatan. Beberapa di antaranya adalah Batu Dinding dan Batok Tenavang yang tengah dipersiapkan menjadi kawasan terintegrasi antara pariwisata dan ekonomi kreatif. Kawasan pusat perkantoran juga dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai daya tarik tambahan.
Dengan konsep pengembangan yang terintegrasi dan berbasis pelestarian, Mahulu menatap masa depan sebagai destinasi unggulan pariwisata Kalimantan Timur yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kekayaan budaya dan komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan. []
Penulis: M. Reza Danuarta | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan