Keluarga menyebut hubungan kerja Sutrimo dengan Febrie Adriansyah bermula dari proyek pembangunan rumah sebelum berkembang menjadi pekerjaan mengurus berbagai keperluan rumah tangga.
JAWA BARAT – Hubungan kerja Sutrimo dengan Febrie Adriansyah disebut bermula dari pekerjaan pembangunan rumah sebelum kemudian berkembang menjadi pekerjaan mengurus berbagai keperluan rumah tangga. Keterangan keluarga itu kini menjadi bagian dari informasi yang muncul setelah kematian Sutrimo yang tengah diselidiki kepolisian.
Kuasa hukum keluarga Sutrimo, Aan Rohaeni, mengatakan keluarga mengetahui Sutrimo memang bekerja untuk Febrie dalam waktu cukup lama. Namun, keluarga tidak mengetahui secara pasti posisi Sutrimo sebagai Kepala Rumah Tangga (Karumga), sebagaimana disebut dalam informasi mengenai pekerjaannya.
“Oh, betul. Kalau itu betul [bekerja untuk Febrie Adriansyah]. Cuma tentang apakah dia karumga atau bukan, keluarga nggak ada yang tahu,” kata Aan saat dihubungi wartawan melalui telepon, Senin (10/8), sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Selasa, (11/08/2026).
Menurut Aan, Sutrimo sempat berhenti bekerja selama sekitar dua tahun untuk bekerja di tempat lain sebelum kembali bekerja bersama Febrie. Ketika Sutrimo mengalami sakit, biaya pengobatannya juga disebut mendapat bantuan, termasuk ketika pandemi Covid-19 berlangsung.
“Sudah lama. Kadang-kadang kalau pernah off, pernah berapa tahun off. Tapi ketika sakit juga dibiayain. Pada saat Covid juga tetap,” ujarnya.
Keluarga mengetahui awal hubungan kerja tersebut dari aktivitas Sutrimo sebagai tukang bangunan. Sutrimo disebut pernah mengerjakan pembangunan rumah milik Febrie. Setelah pekerjaan selesai, hubungan kerja kemudian berlanjut karena Sutrimo dipercaya untuk membantu berbagai keperluan Febrie.
“Pak Sutrimo itu memang pekerjaan dulunya awalnya adalah tukang. Memang membiayai bangunan dan lain-lain. Setahu keluarga Pak Sutrimo ini ya bangun rumah Pak Febrie,” jelasnya.
“Lalu karena Pak Febrie cocok, terus diajak kerja ikut Pak Febrie,” imbuh Aan.
Dalam pekerjaan sehari-hari, Sutrimo disebut menangani beragam keperluan, baik pekerjaan di luar rumah maupun urusan rumah milik Febrie. Tugas tersebut antara lain memperbaiki bagian rumah dan mengurus pembayaran kebutuhan rumah tangga.
“Sehari-hari pekerjaan Pak Sutrimo itu macam-macam. Kadang kala disuruh ngerjain proyek. Kalau tidak keluar, ya Pak Sutrimo di rumah ngurusin rumah-rumahnya Pak Febrie,” ungkapnya.
“Jadi [Sutrimo] salah satu kepercayaannya beliau [untuk urusan rumah tangga],” kata Aan.
Meski hubungan kerja berlangsung cukup lama, keluarga Sutrimo disebut tidak pernah berkomunikasi langsung dengan Febrie. Aan mengatakan informasi mengenai hubungan tersebut diketahui keluarga melalui komunikasi Sutrimo dengan anggota keluarganya.
“Saya tanya pernah nggak dipertemukan sama Pak Febrie? Nggak pernah. Memang tidak ada satu pun yang berkomunikasi langsung dengan Pak Febrie,” ujar Aan.
Bagi keluarga Sutrimo di Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas (Banyumas), Febrie selama ini hanya dikenal sebagai orang yang menjadi tempat Sutrimo bekerja dan berprofesi sebagai jaksa.
“Orang desa ya, pokoknya tahunya ikut Pak Febrie, jaksa,” katanya.
“Jadi Pak Febrie itu setahu keluarga hanya komunikasi dengan Pak Sutrimo,” kata dia.
Keterangan keluarga tersebut muncul setelah Sutrimo ditemukan meninggal dunia di depan sebuah klinik kecantikan di Jakarta Selatan (Jaksel) dengan kondisi mulut berbusa. Keluarga kemudian mempertanyakan sejumlah hal, termasuk dokumen rumah sakit, kondisi jenazah, serta ponsel dan barang pribadi Sutrimo yang disebut belum dikembalikan.
Keluarga selanjutnya melaporkan dugaan kematian tidak wajar tersebut kepada kepolisian di Banyumas. Laporan itu kemudian diteruskan ke Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya untuk ditindaklanjuti.
Kepolisian dijadwalkan melakukan ekshumasi terhadap makam Sutrimo di Banyumas, Jawa Tengah, Rabu (12/8/2026). Ekshumasi dilakukan dengan menggali kembali makam untuk mengangkat jenazah sebagai bagian dari proses pemeriksaan guna mengungkap penyebab kematian yang dipertanyakan keluarga.
Sebelum ditemukan meninggal di Jaksel, Sutrimo sempat pulang ke kampung halamannya di Banyumas. Ia kemudian disebut telah disiapkan tiket untuk kembali ke Jakarta dan diduga didampingi dua orang dalam perjalanan tersebut. Rangkaian penyelidikan dan ekshumasi diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai penyebab kematian Sutrimo serta menjawab pertanyaan keluarga mengenai sejumlah kejanggalan yang mereka temukan. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan