Presiden Prabowo: Pemerintah Terbuka terhadap Kritik yang Membangun

Presiden Prabowo Subianto menegaskan pemerintah tetap membuka ruang kritik, namun mengingatkan adanya perbedaan mendasar antara kritik yang membangun dengan fitnah dan narasi yang dinilai melemahkan kepercayaan publik.

JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menegaskan pemerintah tidak antikritik, namun membedakan kritik yang membangun dengan fitnah maupun narasi yang dinilai dapat melemahkan kepercayaan publik terhadap negara. Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri peringatan Hari Lahir (Harlah) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Kamis (23/7).

Dalam pidatonya, Presiden menyampaikan adanya kelompok yang menurutnya lebih mengutamakan kepentingan pihak lain dibanding kepentingan nasional. Ia menggunakan istilah londo ireng untuk menggambarkan kelompok tersebut, yang kemudian dikaitkannya dengan sebagian wartawan, pengamat, dan lembaga swadaya masyarakat.

“Kita negara demokrasi. Kita tidak anti kritik. Tapi kita bukan anak kecil. Kita tahu ada orang-orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. Itu yang dulu kita sebut londo ireng, ya. Yang ikut Belanda perang lawan kita.”

Londo-londo ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain. Wartawan, jurnalis, apa itu, pengamat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM),” ujar Prabowo, sebagaimana diberitakan Fin, Sabtu (25/07/2026).

Presiden juga menilai narasi mengenai Indonesia yang akan mengalami keruntuhan terus diulang, tetapi tidak pernah terbukti. Menurutnya, kampanye semacam itu justru berpotensi mengurangi optimisme masyarakat terhadap kondisi nasional.

“Jadi saudara-saudara, kita paham ada kampanye besar untuk kita goyah. Indonesia akan kolaps. Bulan April akan kolaps. Eh April lewat, enggak kolaps. Bulan Mei akan kolaps. Bulan Mei lewat, enggak. Bulan Juni akan kolaps. Bulan Juli akan kolaps. Tiap bulan akan kolaps,” papar Prabowo.

Selain itu, Presiden menyinggung pemberitaan media yang dinilainya lebih menyoroti kekurangan dibanding capaian pemerintah, termasuk program rehabilitasi puluhan ribu sekolah.

“Ada juga media-media yang, ya kan, walaupun kita sudah perbaiki 27 ribu sekolah, dia cari sekolah yang belum diperbaiki, dia taruh di halaman pertama. Dia kira kita enggak ngerti,” kata Presiden.

Prabowo juga mempertanyakan sumber pendanaan sejumlah LSM yang aktif menyampaikan kritik kepada pemerintah.

“LSM harus kita tanya. Yang gaji lo siapa? Yang bayar listrik lo siapa? Yang bayar handphone lo siapa? Cari kerjaan susah, kita tahu kan,” tegas Prabowo.

Sebagai penutup, Presiden mengibaratkan pengkritik yang terus menyampaikan narasi negatif seperti suporter yang justru menjatuhkan semangat tim yang sedang bertanding.

“Saudara-saudara, kalau kita cinta sama satu kesebelasan, umpamanya dia lagi bertanding di lapangan, kita kan sebagai suporter, ‘Ayo, ayo, maju.’ Tapi jangan turunkan moral dong orang lagi bertanding di situ. Nanti kamu kalah. Ini suporter macam apa? Gendeng,” ungkapnya.

Meski demikian, Presiden kembali menegaskan bahwa kritik tetap merupakan bagian penting dalam sistem demokrasi selama disampaikan secara bertanggung jawab.

“Kritik itu menyelamatkan. Tapi ada beda kritik dan caci maki. Kritik dengan fitnah itu beda. Itu benar enggak? Tapi enggak ada masalah. Tidak ada masalah. Kalau kita benar, kalau kita berada di jalan yang benar, kita terus akan kuat.” []

Redaksi08

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com