Pameran Instalasi Roepa Merdeka menggabungkan kreativitas berbasis serat dan benang dengan pemberdayaan perempuan serta dukungan terhadap berbagai program sosial.
JAKARTA – Pameran Instalasi Roepa Merdeka tidak hanya menjadi ajang menampilkan karya seni berbahan serat dan benang, tetapi juga membawa misi pemberdayaan perempuan dan penguatan kegiatan sosial. Karya yang terjual dalam pameran tersebut akan digunakan untuk mendukung berbagai aksi serta program sosial.
Pameran yang digagas Dharma Wanita Persatuan (DWP) Badan Intelijen Negara (BIN) itu dibuka Ketua Harian Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) Tri Tito Karnavian di Balai Sudirman, Jakarta, Rabu (26/8/2026). Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memeriahkan Bulan Kemerdekaan sekaligus membuka ruang bagi seniman dan kreator lokal.
Tri menilai karya seni instalasi memiliki karakter berbeda karena memadukan imajinasi, nilai estetika, dan keterampilan teknis. Proses kreatif tersebut, menurut dia, juga dapat membantu seseorang mengembangkan kemampuan memecahkan masalah sekaligus mengelola emosi.
Besarnya potensi sektor seni dan ekonomi kreatif membuat ruang ekspresi semacam itu dinilai perlu dikembangkan secara berkelanjutan. Tri menyebut jumlah pekerja seni di Indonesia mencapai puluhan juta orang dengan bidang pekerjaan yang beragam.
“Karena dari data BPS yang dikelolah oleh kementerian ekonomi kreatif, pekerja seni itu banyak sekali hampir 25 juta orang, mungkin memang pekerja seni ini banyak macamnya,” ujar Tri Tito.
Selain membuka ruang bagi seniman, pameran tersebut juga menempatkan perempuan sebagai bagian penting dalam upaya menjaga keberlanjutan warisan budaya. Tri berharap kegiatan serupa dapat diselenggarakan secara rutin setiap Agustus dengan melibatkan pelaku seni murni maupun perajin yang mengembangkan usaha berbasis ekonomi keluarga.
Menurut Tri, tema pameran yang mengangkat perempuan, warisan budaya, dan masa depan memiliki pesan yang lebih luas daripada sekadar perayaan kemerdekaan.
“Hari ini pameran ini mempunyai tema merayakan perempuan, merawat warisan, merajut masa depan bukan main, karena tidak hanya merayakan kemerdekaan, tapi juga kita merayakan perempuan, karena kita ibu-ibu ini adalah tiang negara,” kata Tri.
Pameran tersebut sekaligus mempertemukan aspek seni, pemberdayaan perempuan, dan kepedulian sosial. Penyelenggara berharap karya-karya yang dihasilkan tidak berhenti sebagai produk kreatif, tetapi dapat memberikan manfaat lebih luas melalui dukungan terhadap berbagai kegiatan sosial, sebagaimana diberitakan Cnn Indonesia, Rabu (26/8/2026). []
Redaksi1
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan