Sebanyak 70 guru PAUD di Tarakan mengikuti lokakarya Tari Jepin sebagai upaya mengintegrasikan seni budaya, kreativitas, dan pendidikan karakter ke dalam pembelajaran anak usia dini.
TARAKAN – Seni Tari Jepin didorong menjadi salah satu media untuk menanamkan karakter sekaligus mengenalkan budaya lokal kepada anak sejak usia dini. Upaya itu dilakukan melalui Workshop Tari Jepin Tingkat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Negeri dan Swasta Tahun 2026 yang melibatkan 70 perwakilan guru PAUD se-Kota Tarakan, Rabu (12/08/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Balay Adat, Kelurahan Kampung Enam, tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan keterampilan seni para pendidik, tetapi juga memperkuat metode pembelajaran karakter melalui gerak, kreativitas, kedisiplinan, dan nilai kebersamaan.
Wali Kota Tarakan Khairul menilai pendidikan anak usia dini tidak semestinya hanya bertumpu pada kemampuan akademik. Perkembangan motorik, kognitif, seni, kreativitas, dan karakter juga perlu mendapat ruang yang seimbang selama masa tumbuh kembang anak.
Menurut Khairul, aktivitas seni seperti Tari Jepin dapat menjadi sarana pembelajaran yang menyenangkan sekaligus membantu meningkatkan kreativitas dan kepercayaan diri anak. Ia juga mengingatkan agar anak usia dini tidak dibebani pembelajaran terlalu berat.
Khairul menekankan pendidikan karakter perlu menjadi fondasi sejak jenjang PAUD, termasuk melalui pembiasaan disiplin, budaya antre, menjaga kebersihan, kepedulian, serta sikap menghormati orang lain, sebagaimana dilansir Tarakan kota, Rabu, (12/08/2026).
“Apa yang ditanamkan kepada anak-anak sejak PAUD, TK, kelompok bermain hingga pendidikan dasar, itulah yang akan menjadi bekal mereka di masa depan,” ujarnya.
Melalui pendekatan tersebut, guru PAUD diharapkan tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga berperan dalam memperkenalkan identitas budaya kepada anak melalui metode pembelajaran yang sesuai dengan tahap perkembangan mereka. Tari Jepin dinilai dapat menggabungkan unsur seni, aktivitas motorik, kebersamaan, serta pengenalan budaya dalam satu proses pembelajaran.
Lokakarya tersebut turut menghadirkan Datu Norbeck bersama Sanggar Budaya Tradisional (SBT) Paguntaka sebagai narasumber. SBT Paguntaka merupakan kelompok seni yang selama ini bergerak dalam pelestarian dan pengembangan seni budaya tradisional di Tarakan.
Kegiatan juga dihadiri Kepala Dinas Pendidikan Kota Tarakan, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak serta Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Tarakan, Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kota Tarakan beserta jajaran, Camat Tarakan Timur, Lurah Kampung Enam, Bunda PAUD Kota Tarakan, Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Tarakan Timur, serta kepala sekolah PAUD.
Pelibatan puluhan guru tersebut diharapkan membuat pengenalan Tari Jepin tidak berhenti pada kegiatan lokakarya, tetapi dapat diterapkan dalam pembelajaran di masing-masing satuan PAUD. Dengan demikian, pendidikan karakter dan pelestarian budaya dapat berjalan beriringan sejak anak berada pada tahap pendidikan paling awal. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan