BPBD Sumut memperkuat pendampingan dan kesiapsiagaan evakuasi setelah masih ditemukan warga kembali ke rumah dan mengecek ternak di zona merah Gunung Sinabung yang berstatus Siaga Level
SUMATERA UTARA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Utara (Sumut) meningkatkan pendampingan dan kesiapsiagaan evakuasi di sekitar Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, setelah masih ditemukan warga yang kembali ke rumah dan mengecek ternak di kawasan zona merah meski gunung tersebut berstatus Siaga (Level III).
Kepala BPBD Sumut Tuahta Ramajaya Saragih mengatakan laporan mengenai warga yang kembali ke kawasan berbahaya menjadi perhatian karena aktivitas vulkanik Gunung Sinabung masih dapat berubah sewaktu-waktu.
“Memang dalam hari-hari berikutnya, kami mendapat laporan bahwa ada beberapa masyarakat yang kembali gitu,” ujarnya, sebagaimana dilansir Cnn Indonesia, Jumat, (04/09/2026).
Warga yang kembali ke kawasan terdampak umumnya mendatangi rumah pada siang hari untuk memeriksa tempat tinggal maupun ternak. Padahal, lokasi tersebut masih masuk zona merah yang ditetapkan sebagai kawasan berbahaya akibat aktivitas Gunung Sinabung.
Di tengah kondisi tersebut, sebanyak 201 kepala keluarga (KK) atau sekitar 650 jiwa warga Desa Kuta Tengah telah mengungsi. Mereka ditempatkan di sejumlah lokasi yang dinilai lebih aman.
“Dari data terakhir, sekitar 201 KK atau 650 jiwa warga Desa Kuta Tengah mengungsi di wilayah Desa Suka Tepu dan Koperasi Desa Kelurahan/PUD,” urainya.
BPBD Sumut bersama Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) terus melakukan pendampingan di wilayah terdampak. TNI dan Polri juga memberikan pengamanan terhadap desa-desa yang ditinggalkan warga selama mengungsi.
Pengamanan tersebut diharapkan dapat memberi rasa aman kepada masyarakat sehingga warga tidak perlu kembali ke kawasan berbahaya hanya untuk memastikan kondisi rumah maupun harta benda mereka.
“Kami tidak bisa memaksakan secara keras, tetapi personel BPBD dan TNI/Polri terus mengikutsertakan pendampingan dan kesiapsiagaan mobilisasi jika terjadi erupsi susulan tiba-tiba,” tambahnya.
Selain memperkuat kesiapsiagaan evakuasi, BPBD Sumut meminta masyarakat mematuhi rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Keselamatan jiwa diminta menjadi pertimbangan utama selama status Gunung Sinabung masih berada pada tingkat Siaga.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap memprioritaskan keselamatan jiwa dan mematuhi rekomendasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG),” urainya.
BPBD Sumut juga mengingatkan masyarakat agar tidak menilai tingkat bahaya hanya berdasarkan kondisi Gunung Sinabung yang terlihat secara kasatmata. Aktivitas vulkanik dan status gunung ditentukan berdasarkan pemantauan serta kajian teknis PVMBG.
“Meskipun secara kasat mata erupsi tampak mereda dengan asap tipis, status resmi sepenuhnya mengikuti penilaian teknis PVMBG,” ujar Tuahta.
Untuk mendukung penanganan warga terdampak, BPBD Sumut telah membagikan 630 masker pada tahap awal. Sebanyak lima dari tujuh tenda pengungsian yang disiapkan juga telah didirikan untuk memenuhi kebutuhan warga.
Dukungan logistik dan operasional turut diperkuat dengan penyiagaan kendaraan evakuasi, suplai air bersih, serta fasilitas sanitasi bagi masyarakat di lokasi pengungsian.
“Selain itu, BPBD Sumut memobilisasi dua unit truk evakuasi, satu mobil tangki air bersih, dan satu armada toilet untuk mendukung kebutuhan warga di lokasi pengungsian,” jelasnya.
Gunung Sinabung sebelumnya mengalami erupsi pada Senin (31/8/2026) pukul 10.17 Waktu Indonesia Barat (WIB), dengan kolom abu mencapai sekitar 3.500 meter di atas puncak. Erupsi tersebut merupakan aktivitas letusan pertama sejak gunung api itu terakhir mengalami erupsi pada 2022.
Selama status Siaga masih diberlakukan, masyarakat di sekitar kawasan rawan diharapkan tidak memasuki zona merah dan tetap mengikuti arahan petugas agar proses pengungsian serta kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan erupsi susulan dapat berjalan optimal. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan