Pemkot Bontang bersama Kemenag mendorong 166 guru madrasah menjadikan akreditasi sebagai budaya mutu harian melalui penerapan pembelajaran mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta.
BONTANG – Penguatan mutu pendidikan madrasah di Kota Bontang diarahkan tidak lagi berhenti pada pemenuhan administrasi akreditasi, tetapi menjadi budaya yang diterapkan dalam proses pembelajaran sehari-hari. Arah tersebut menjadi salah satu penekanan dalam Workshop Implementasi Integrasi Pembelajaran Mendalam dan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) Tahun 2026 yang melibatkan 166 guru madrasah se-Kota Bontang.
Kegiatan yang berlangsung di Auditorium 3 Dimensi, Rabu (30/09/2026), tersebut menjadi ruang penguatan kompetensi guru sekaligus mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang mengedepankan keamanan, keteladanan, penghargaan terhadap peserta didik, serta pembentukan karakter.
Staf Ahli Bidang Pemerintahan dan Hukum Anwar Sadat hadir mewakili Wali Kota Bontang. Ia menyampaikan bahwa madrasah memiliki peran strategis dalam membangun generasi yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga karakter dan akhlak.
“Mari kita bersama-sama membangun lingkungan pendidikan yang penuh cinta, keteladanan dan penghargaan terhadap peserta didik, dengan demikian, madrasah dapat menjadi ruang yang tidak hanya mencerdaskan, tetapi juga membentuk generasi yang berakhlak mulia,” papar Anwar Sadat.
Sebagaimana diberitakan Pemkot Bontang, Rabu, (30/09/2026), kegiatan tersebut diikuti perwakilan guru dari Raudhatul Athfal (RA), Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), dan Madrasah Aliyah (MA) se-Kota Bontang.
Mewakili Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Bontang, Kepala Subbagian Tata Usaha (Kasubbag TU) Sultani mengapresiasi perhatian pemerintah daerah terhadap peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru madrasah.
Ia menekankan bahwa akreditasi seharusnya tidak diperlakukan sebagai persiapan administratif menjelang kedatangan asesor. Sebaliknya, standar mutu perlu diterapkan secara konsisten dalam aktivitas pendidikan sehari-hari sehingga peningkatan kualitas menjadi bagian dari kebiasaan lembaga.
Workshop yang dilaporkan Ketua Panitia Sri Mardini itu juga diselenggarakan dengan pembiayaan mandiri sekolah atau madrasah. Skema tersebut menjadi bentuk keterlibatan langsung satuan pendidikan dalam menjaga dan meningkatkan mutu pembelajaran.
Pemkot Bontang memandang kepala sekolah, pengawas, dan guru sebagai unsur utama yang menentukan keberhasilan proses pembelajaran. Kolaborasi ketiganya diharapkan mampu memperkuat kualitas pendidikan sekaligus membentuk generasi Kota Taman yang unggul dalam sains dan memiliki karakter yang kuat.
Penguatan pembelajaran mendalam dan KBC diharapkan tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Implementasinya ditargetkan dapat membangun ekosistem pendidikan yang inklusif, humanistis, dan akuntabel sehingga peningkatan mutu madrasah berjalan berkelanjutan serta mendukung daya saing Bontang pada masa mendatang. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan