KUTAI KARTANEGARA – Usaha home industri amplang ikan bandeng Cap Permata Sari yang berlokasi di Gunung Sedayu, Kelurahan Rapak Banjar, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, terus menunjukkan perkembangan positif dan mampu bertahan di tengah ketatnya persaingan produk makanan ringan lokal.
Usaha yang dikelola oleh Devi Permata Sari (29) ini dirintis secara mandiri dengan memanfaatkan pengalaman dan dorongan dari orang tuanya yang memiliki latar belakang di bidang usaha. Berbekal pengalaman tersebut, Devi mulai membangun jaringan pemasaran secara bertahap dengan menyasar rumah makan hingga toko-toko besar di wilayah Kutai Kartanegara.
“Awalnya orang tua yang mendorong karena mereka punya background usaha. Saya mulai mencari pasaran sendiri ke rumah makan dan toko-toko besar dengan sistem titip jual,” ujar Devi saat diwawancarai, Senin (02/02/2026).
Dalam menjalankan sistem pemasaran tersebut, Devi menerapkan metode titip jual dengan perputaran modal dua kali. Produk yang dititipkan pada bulan berjalan akan dievaluasi penjualannya, kemudian hasil penjualan diambil saat pengantaran produk berikutnya pada bulan selanjutnya. Skema ini dinilai efektif untuk menjaga stabilitas arus kas sekaligus memperluas jaringan distribusi produk.
Dari sisi produk, Amplang Cap Permata Sari memiliki sejumlah keunggulan, baik dari kualitas maupun kemasan. Amplang berbahan dasar ikan bandeng ini memiliki tekstur renyah dan tidak keras, sehingga aman dikonsumsi oleh semua kalangan usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Selain kualitas rasa, aspek kemasan juga menjadi perhatian utama. Produk dikemas menggunakan plastik tebal yang dipres rapat dan dilengkapi plastik klip, sehingga lebih aman, higienis, dan tidak mudah terbuka selama proses distribusi maupun penyimpanan.
“Keunggulan produk saya itu renyah, tidak keras, dan kemasannya aman. Jadi produk lebih awet dan konsumen juga merasa lebih nyaman,” jelasnya.
Dalam upaya menjaga keberlangsungan usaha, Devi menekankan pentingnya konsistensi kualitas produk dan kepercayaan pelanggan. Ia mengaku selalu terbuka terhadap kritik maupun komplain dari konsumen sebagai bagian dari evaluasi dan peningkatan mutu produk. “Strategi saya menjaga kualitas, menerima komplain, dan menjaga kepercayaan customer. Itu yang paling utama,” katanya.
Untuk pemasaran, Amplang Cap Permata Sari dijual dalam berbagai ukuran kemasan dengan harga mulai dari Rp10.000 hingga Rp25.000 per bungkus. Sementara untuk pembelian dalam jumlah besar atau kiloan, produk ini dibanderol dengan harga Rp160.000 per kilogram.
Dari usaha tersebut, Devi mengungkapkan bahwa omzet bersih yang diperoleh setiap bulan berkisar antara Rp5 juta hingga Rp10 juta, tergantung pada jumlah pesanan dan distribusi produk di pasaran.
Meski telah berjalan cukup stabil, Devi menyebut sejauh ini tidak menghadapi kendala berarti dalam menjalankan usahanya. Ia berharap usaha amplang yang dirintisnya dapat terus berkembang, memperluas jangkauan pemasaran, serta semakin dikenal oleh masyarakat luas, khususnya di Kabupaten Kutai Kartanegara dan sekitarnya. []
Penulis: Anggi Triomi | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan