SAMARINDA – Penjual minuman Macha Boy yang beroperasi di kawasan Kampung Ramadan BAZNAS Samarinda, eks Lapangan Pesawat Temindung, Jalan Pipit, mengandalkan varian matcha sebagai menu utama selama bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Meski demikian, pelaku usaha juga menyediakan pilihan minuman lain seperti kopi dan susu untuk menjangkau lebih banyak pembeli.
Anis Niahla, pemilik usaha Macha Boy, mengatakan lapaknya mulai beroperasi sejak awal Ramadan dan buka setiap hari selepas salat Asar hingga pukul 00.00 Wita. Kehadiran stan minuman ini menjadi bagian dari rangkaian pelaku usaha mikro yang meramaikan Kampung Ramadan BAZNAS tahun 2026, yang akan berakhir menjelang hari raya.
“Kami memang fokus pada minuman matcha sebagai ciri khas utama. Namun untuk memberikan lebih banyak pilihan kepada pembeli, kami juga menyediakan aneka kopi dan minuman berbasis susu,” ujar Anis, sapaan akrabnya, Jumat (27/02/2026).
Ia menjelaskan bahwa seluruh varian minuman dipasarkan dengan harga Rp15 ribu per cup. Untuk kategori matcha, varian original menjadi menu yang paling diminati. Sementara bagi pembeli yang tidak memilih matcha, menu kopi latte dan susu taro termasuk yang paling sering dipesan.

Dalam sehari, Anis menyebut rata-rata penjualan mencapai sekitar 10 cup. Jumlah tersebut dapat berubah tergantung tingkat kunjungan masyarakat ke kawasan Kampung Ramadan. Pada hari-hari tertentu, terutama menjelang waktu berbuka puasa, jumlah pembeli cenderung meningkat.
Menurut Anis, tantangan utama pada masa awal berjualan adalah menjaga konsistensi, baik dari segi kualitas produk maupun ketahanan menghadapi fluktuasi jumlah pengunjung. Ia mengakui kondisi lapangan tidak selalu stabil.
“Hambatan di awal buka ini adalah soal konsistensi. Kadang pengunjung ramai, kadang juga sepi. Saat ramai mendadak, kami harus cepat menyesuaikan agar pesanan tidak tertukar. Itu yang menjadi tantangan,” jelas Anis.
Ia menuturkan, ketika lonjakan pembeli terjadi secara tiba-tiba, timnya harus bekerja lebih sigap untuk memastikan setiap pesanan sesuai dengan permintaan pelanggan. Situasi tersebut kerap menuntut koordinasi yang baik agar pelayanan tetap optimal.
Meski demikian, Anis menilai pengalaman tersebut menjadi proses pembelajaran dalam mengelola usaha, terutama di momentum musiman seperti Ramadan. Ia berupaya mempertahankan cita rasa minuman dan kualitas pelayanan agar pelanggan tetap merasa puas.
Dari sisi waktu operasional, Macha Boy membuka lapak selepas Asar untuk menyasar pembeli yang mencari takjil maupun minuman berbuka. Penjualan dilanjutkan hingga pukul 00.00 Wita guna melayani pengunjung yang ingin bersantai atau menikmati minuman selepas salat tarawih.
“Kami buka setelah Asar dan tutup sekitar jam 12 malam. Jadi kalau ada yang ingin nongkrong atau sekadar minum kopi di malam hari, kami tetap melayani,” kata perempuan berkaca mata ini.
Keberadaan stan minuman ini diharapkan dapat menambah variasi pilihan kuliner di Kampung Ramadan BAZNAS serta memberikan kontribusi bagi pelaku usaha kecil selama bulan puasa. Anis pun berharap usahanya dapat memiliki gerai sendiri dan menarik lebih banyak pelanggan hingga akhir Ramadan. []
Penulis: Guntur Riyadi | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan