WASHINGTON — Pernyataan kontroversial kembali datang dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait krisis kepemimpinan di Iran setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Trump secara terbuka menyatakan Amerika Serikat seharusnya memiliki peran dalam menentukan siapa yang akan memimpin Iran selanjutnya.
Dilaporkan sejumlah media internasional, Jumat (06/03/2026), Trump menilai kandidat yang saat ini disebut paling kuat menggantikan Khamenei, yakni putranya Mojtaba Khamenei, bukan sosok yang dapat diterima oleh Washington. Pernyataan tersebut disampaikan Trump dalam wawancara dengan media Axios.
Menurut Trump, Amerika Serikat menginginkan figur baru yang dinilai mampu membawa perubahan arah politik di Iran sekaligus meredakan konflik yang selama ini terjadi dengan negara Barat.
“Kami membutuhkan sosok pemimpin di Iran yang mampu menciptakan stabilitas dan membuka jalan menuju hubungan yang lebih damai,” kata Trump dalam wawancara tersebut.
Ia juga menyampaikan bahwa Washington tidak dapat menerima kepemimpinan yang melanjutkan garis kebijakan keras seperti yang selama ini dijalankan oleh pemerintahan Khamenei.
Dalam pernyataannya, Trump bahkan menegaskan bahwa Amerika Serikat seharusnya ikut terlibat dalam proses penentuan pemimpin baru Iran. Ia menyinggung pengalaman politik di Venezuela sebagai contoh ketika Washington turut mempengaruhi dinamika kepemimpinan di negara tersebut.
“Amerika Serikat perlu berada dalam proses tersebut agar kepemimpinan baru di Iran tidak membawa dunia kembali ke konflik yang sama,” ujarnya.
Komentar Trump ini muncul setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei yang dilaporkan terjadi akibat serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel pada akhir Februari lalu. Peristiwa tersebut memicu krisis politik di Iran dan membuka proses penentuan pemimpin tertinggi baru di negara itu.
Dalam sistem politik Iran, pemilihan Pemimpin Tertinggi sebenarnya merupakan kewenangan Majelis Pakar, sebuah badan yang terdiri dari para ulama senior yang memiliki otoritas konstitusional untuk memilih pengganti pemimpin negara.
Sejumlah nama kini disebut sebagai kandidat penerus Khamenei. Selain Mojtaba Khamenei, beberapa tokoh ulama dan pejabat senior Iran juga masuk dalam bursa calon pemimpin baru negara tersebut.
Namun hingga saat ini pemerintah Iran belum mengumumkan secara resmi siapa yang akan menjadi penerus Khamenei.
Pernyataan Trump mengenai kemungkinan keterlibatan Amerika Serikat dalam proses suksesi tersebut diperkirakan akan memicu reaksi keras dari pemerintah Iran, mengingat isu kepemimpinan negara dianggap sebagai urusan internal yang tidak dapat dicampuri oleh pihak luar.
Di tengah meningkatnya ketegangan militer dan politik di kawasan Timur Tengah, pernyataan tersebut semakin menambah kompleksitas dinamika geopolitik yang sedang berkembang. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan