BANJARBARU – Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru mencatat puluhan laporan dugaan kasus campak yang muncul sepanjang awal tahun 2026. Berdasarkan data yang dihimpun melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR), terdapat 53 laporan kasus suspek campak yang terpantau sejak pekan pertama hingga pekan kedelapan tahun ini.
Meski jumlah laporan cukup banyak, hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan sebagian besar kasus tersebut tidak terbukti sebagai penyakit campak maupun rubella. Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Banjarbaru, Siti Ningsih.
Menurutnya, dari total 53 laporan kasus suspek yang tercatat, sebanyak 24 di antaranya telah dipastikan negatif setelah menjalani pemeriksaan laboratorium. Sementara itu, sebagian kasus lainnya masih dalam tahap penelusuran lebih lanjut oleh tim kesehatan.
“Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan bahwa sebagian besar laporan suspek tidak terkonfirmasi sebagai campak atau rubella,” kata Siti Ningsih saat memberikan keterangan kepada awak media, Sabtu (14/03/2026).
Ia menjelaskan, dari seluruh laporan yang ada, satu kasus diketahui positif rubella dan dua kasus lainnya dinyatakan positif campak. Selain itu, terdapat tiga sampel yang hingga kini masih menunggu hasil pemeriksaan dari laboratorium.
Di sisi lain, terdapat pula sejumlah laporan suspek yang tidak disertai dengan pengambilan sampel sehingga tidak dapat dilakukan konfirmasi melalui uji laboratorium. “Sebagian laporan tidak dilengkapi dengan pengambilan sampel, sehingga tidak dapat dipastikan melalui pemeriksaan laboratorium,” jelasnya.
Berdasarkan hasil investigasi epidemiologi yang dilakukan oleh tim kesehatan, kasus positif yang ditemukan tidak memiliki keterkaitan satu sama lain. Artinya, tidak ditemukan indikasi adanya penularan langsung antara pasien yang terkonfirmasi.
Menurut Siti, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kasus-kasus tersebut berdiri sendiri dan tidak membentuk pola penyebaran yang saling berkaitan. “Hasil penelusuran menunjukkan bahwa kasus positif yang ditemukan tidak memiliki hubungan epidemiologi antar pasien,” ujarnya.
Campak merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus measles. Penyakit ini umumnya ditandai dengan gejala seperti demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, serta munculnya ruam kemerahan pada kulit.
Penanganan terhadap penderita campak biasanya bersifat suportif. Pasien dianjurkan mendapatkan asupan cairan dan nutrisi yang cukup, disertai pemberian vitamin A serta obat untuk menurunkan demam guna meredakan gejala yang muncul.
Untuk menekan potensi penyebaran penyakit tersebut, Dinas Kesehatan Banjarbaru menekankan pentingnya imunisasi campak-rubella (MR) bagi anak-anak sesuai jadwal yang telah ditetapkan dalam program imunisasi nasional.
Selain itu, pemantauan kasus melalui sistem surveilans kesehatan terus dilakukan guna mendeteksi potensi penyebaran penyakit sejak dini. “Pemantauan melalui sistem surveilans dan pelaporan kasus suspek terus kami lakukan agar potensi peningkatan kasus dapat segera terdeteksi,” ungkapnya.
Ia juga mengimbau masyarakat agar tidak panik menyikapi laporan suspek campak yang muncul. Namun, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan dengan memastikan anak-anak memperoleh imunisasi secara lengkap.
“Yang paling penting adalah memastikan anak-anak mendapatkan imunisasi sesuai jadwal agar terlindungi dari penyakit campak dan rubella,” pungkasnya. []
Redaksi4
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan