Jejak Bank Indonesia di Balik Wedang Dayak

Di sebuah gang sempit di Balikpapan Utara, jauh dari hiruk-pikuk pusat ekonomi, sebuah dapur sederhana justru memproduksi sesuatu yang melampaui batas geografis: Wedang Dayak. Minuman herbal berbasis bawang Dayak itu kini menembus pasar internasional—dari Singapura hingga Nigeria. Di balik kisah yang tampak personal itu, terselip cerita yang lebih besar: bagaimana kebijakan dan intervensi Bank Indonesia perlahan mengubah wajah usaha mikro menjadi pemain pasar global.

PAGI itu belum sepenuhnya terang di Gang Diana, Balikpapan Utara. Udara masih lembap, dan aktivitas kota belum benar-benar dimulai. Namun di sebuah rumah sederhana di Jalan Projakal KM 5, suara air mendidih lebih dulu memecah sunyi. Di dapur kecil itu, Nurul Ahdaniyah memulai hari seperti biasanya—menakar, mengiris, dan meracik bawang Dayak dengan ketelitian yang hampir ritualistik.

Aroma khas tanaman herbal itu perlahan memenuhi ruangan. Hangat, sedikit tajam, tetapi menenangkan. Dari dapur sederhana inilah, sebuah produk lahir dan kemudian melampaui batas yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya: Wedang Dayak, minuman herbal berbasis bawang Dayak, kini telah menjangkau pasar internasional.

Perjalanan itu dimulai pada 2020, saat dunia sedang tidak baik-baik saja. Pandemi memukul berbagai sektor usaha. Banyak yang memilih berhenti, menunda, atau bertahan seadanya. Namun Nurul justru mengambil keputusan berbeda. Ia memulai.

Bawang Dayak yang selama ini dikenal sebagai tanaman obat tradisional, ia lihat sebagai peluang. Bukan hanya peluang ekonomi, tetapi juga peluang untuk menghidupkan kembali sesuatu yang perlahan terlupakan. “Sejak awal, saya tidak hanya ingin berjualan. Saya ingin bawang Dayak ini dikenal kembali oleh masyarakat luas, karena ini bagian dari warisan leluhur kita,” ujarnya saat diwawancarai Beritaborneo.com, Minggu (26/04/2026).

Wedang Dayak UMKM lokal Balikpapan menembus pasar global berkat dukungan Bank Indonesia.

Pernyataan itu menjadi fondasi Bungas Food Nusantara—usaha yang ia bangun dari nol. Di awal, semuanya serba terbatas. Produksi dilakukan sendiri, pemasaran mengandalkan jaringan terdekat, dan kemasan masih sederhana. Tidak ada jaminan bahwa usaha ini akan bertahan, apalagi berkembang.

Namun Nurul tidak berhenti pada kondisi itu. Ia mulai mengubah cara pandang terhadap produknya. Bawang Dayak tidak lagi hanya disajikan dalam bentuk tradisional, tetapi diolah menjadi produk yang lebih praktis—teh celup, minuman instan, hingga minuman siap konsumsi.

Perubahan ini membuka pintu baru. Konsumen mulai datang, tidak hanya dari lingkungan sekitar, tetapi juga dari luar kota. Permintaan perlahan meningkat. Tetapi bersama pertumbuhan itu, muncul tantangan yang tidak kecil. Produksi harus lebih konsisten. Kualitas harus terjaga. Kemasan harus lebih menarik. Dan yang paling sulit, pasar harus diperluas. Di titik inilah, usaha kecil itu mulai bersentuhan dengan sistem yang lebih besar.

MEMBUKA AKSES GLOBAL

Perjalanan Bungas Food Nusantara tidak berkembang sendiri. Ada tangan-tangan yang bekerja di baliknya—tidak selalu terlihat, tetapi berpengaruh besar. Salah satunya adalah Bank Indonesia. Melalui Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Balikpapan, Nurul mulai masuk dalam berbagai program pengembangan  Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Ia mengikuti kelas onboarding, pelatihan pengembangan usaha, hingga kegiatan pameran dan promosi. Bagi Nurul, ini adalah fase penting yang mengubah cara ia melihat usahanya sendiri. “Bank Indonesia mensupport dari segi pendampingan, pelatihan, business matching, hingga pameran lokal hingga nasional,” kata Nurul.

Pendampingan itu tidak berhenti pada teori. Ia belajar bagaimana memperbaiki kemasan, memahami branding, hingga mengenali kebutuhan pasar. Hal-hal yang sebelumnya tidak terpikirkan, kini menjadi bagian dari strategi usaha. Namun titik balik paling signifikan terjadi saat ia mengikuti business matching yang difasilitasi Bank Indonesia.

Business matching Bank Indonesia membuka akses ekspor dan memperluas pasar Wedang Dayak.

Di forum itu, Nurul tidak hanya membawa produk. Ia membawa cerita—tentang bawang Dayak, tentang tradisi, tentang usaha kecil yang ingin berkembang. Di hadapannya, duduk calon pembeli dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri. Dari situlah peluang terbuka.

Produk Wedang Dayak mulai dikenal di pasar internasional. Negara seperti Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Oman, hingga Nigeria menjadi tujuan ekspor. Bahkan, pengiriman ke Nigeria telah dilakukan beberapa kali. “Ngirim ke Nigeria empat kali,” kata Nurul.

Ia masih mengingat satu cerita yang paling membekas. Ada kabar dari konsumen di sana yang merasakan manfaat produk tersebut. “Katanya membaik, yang tadinya wajahnya pucat sekarang sudah lumayan baik,” ujarnya.

Bagi Nurul, itu bukan sekadar keberhasilan bisnis. Itu adalah pengingat bahwa apa yang ia kerjakan memiliki arti. Namun masuk ke pasar global bukan perkara mudah. Standar menjadi lebih tinggi. Ekspektasi meningkat. Kesalahan kecil bisa berdampak besar. Di sinilah peran Bank Indonesia kembali terasa—tidak hanya membuka akses pasar, tetapi juga mempersiapkan pelaku usaha agar siap.

Bungas Food Nusantara mulai berbenah. Sertifikasi menjadi prioritas. Usaha ini memperoleh sertifikat Hazard Analysis and Critical Control Point (HACCP), keamanannya dijamin internasional,  memperoleh izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), serta telah menerapkan standar  Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOTB). Setiap proses dijalani dengan kesabaran, karena Nurul tahu bahwa kepercayaan pasar tidak bisa dibangun dengan instan. “Kami ingin memastikan bahwa produk kami aman dan memenuhi standar global,” katanya.

Sertifikasi HACCP memperkuat kualitas dan daya saing Wedang Dayak di pasar internasional.

Selain kualitas produk, Bank Indonesia juga mendorong digitalisasi. Nurul mulai memanfaatkan media sosial dan marketplace. Dari layar ponsel, ia menjangkau konsumen di berbagai daerah. “Sekarang hampir semua penjualan kami terjadi melalui ponsel. Sekitar 90 persen transaksi dilakukan secara digital,” ujarnya.

Sistem pembayaran pun berubah. QRIS dan dompet digital menjadi bagian dari keseharian usaha. Transaksi menjadi lebih cepat, pencatatan lebih rapi, dan usaha lebih mudah dikontrol. Bank Indonesia juga memperkuat aspek tata kelola keuangan melalui aplikasi Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan (SIAPIK). Bagi Nurul, ini membantu memahami kondisi usaha secara lebih jelas—sesuatu yang dulu sering terabaikan oleh pelaku UMKM.

Dalam perjalanan ini, Bank Indonesia tidak bekerja sendiri. Ada sinergi dengan pemerintah daerah, Bea Cukai, dinas terkait, hingga lembaga pendidikan. Namun dalam ekosistem itu, Bank Indonesia berperan sebagai penghubung—mengaitkan satu peluang dengan peluang lain.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh usaha Nurul. Ia mulai melibatkan petani lokal sebagai pemasok bahan baku. Bawang Dayak yang digunakan sebagian besar berasal dari Balikpapan dan Samarinda. Pertumbuhan usaha ini ikut menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.

Namun di balik semua itu, tantangan tetap ada. Kualitas harus dijaga. Produksi harus konsisten. Pasar harus terus diperluas. Dan yang paling penting, pelaku usaha harus terus belajar. “Tantangannya banyak, mulai dari kualitas produk, kemasan, sampai kemampuan komunikasi dalam bahasa asing,” ujar Nurul.

Ia menyadari bahwa dunia usaha terus berubah. Adaptasi bukan lagi pilihan, tetapi keharusan. “Kalau kita tidak mau berubah, kita akan tertinggal,” katanya.

Kalimat itu sederhana, tetapi menjadi inti dari perjalanan panjangnya. Hari beranjak siang di Gang Diana. Aktivitas produksi masih berlangsung. Kemasan Wedang Dayak tersusun rapi, siap dikirim ke berbagai daerah, bahkan ke luar negeri. Dari dapur kecil itu, langkah besar terus berlanjut.

Perjalanan Bungas Food Nusantara belum selesai. Tetapi satu hal sudah jelas: dari usaha sederhana yang dimulai di tengah krisis, kini lahir produk yang mampu menembus batas negara. Dan di balik perjalanan itu, ada sistem yang bekerja—sunyi, terarah, dan perlahan membuka jalan.

Penulis: Irwanto Sianturi | Penyunting: Aulia Setyaningrum

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com