Amerika Serikat mempercepat produksi drone kamikaze Lucas sebagai strategi efisiensi dan penguatan kekuatan militer modern.
ARLINGTON – Militer Amerika Serikat (AS) mempercepat pengembangan dan produksi massal pesawat nirawak (drone) serang satu arah bernama Lucas, sebagai bagian dari strategi memperkuat kemampuan tempur modern di tengah dinamika konflik global, termasuk di kawasan Timur Tengah.
Program ini diumumkan Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (AS) atau Pentagon, yang menyebut drone Lucas telah digunakan dalam operasi militer sebelumnya, termasuk dalam serangan terhadap Iran. Sistem senjata ini dirancang untuk menjadi alternatif berbiaya rendah namun efektif dalam operasi tempur berintensitas tinggi.
Wakil Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) bidang Riset dan Rekayasa, Emil Michael, menjelaskan bahwa pengembangan teknologi Lucas terus ditingkatkan agar dapat diproduksi dalam jumlah besar.
“Setelah hanya beberapa tahun, kami terus menyempurnakannya dan menjadikannya sesuatu yang dapat kami produksi secara massal dalam skala besar,” ujar Michael, sebagaimana dilansir Wall Street Journal, Selasa (17/03/2026).
Ia menambahkan bahwa efektivitas drone tersebut telah teruji dalam berbagai operasi militer yang dilakukan sejak akhir tahun lalu.
“Sejauh ini mereka bekerja sangat baik dan terbukti menjadi alat yang berguna dalam gudang senjata (kami),” lanjut Michael.
Lucas merupakan singkatan dari Low-cost Unmanned Combat Attack System, yakni sistem serangan nirawak berbiaya rendah yang dirancang melalui pendekatan reverse engineering atau rekayasa balik dari drone Shahed milik Iran. Teknologi ini dikembangkan oleh perusahaan manufaktur SpektreWorks yang berbasis di Arizona.
Dalam implementasinya, Lucas dioperasikan melalui unit khusus serangan satu arah militer AS dan dilaporkan pertama kali digunakan dalam operasi militer bertajuk Operation Epic Fury. Sistem ini memiliki jangkauan sekitar 434 mil laut dengan waktu terbang hingga enam jam.
Dari sisi biaya, Lucas dinilai lebih ekonomis dibandingkan sistem persenjataan konvensional, dengan harga berkisar antara 10.000 hingga 55.000 dolar AS per unit. Angka ini bahkan lebih rendah dibandingkan kit pemandu Joint Direct Attack Munition (JDAM) yang digunakan untuk meningkatkan presisi bom konvensional.
Secara teknis, drone ini memiliki panjang sekitar 3 meter, lebar 2,5 meter, serta berat 81,5 kilogram. Lucas mampu terbang pada ketinggian hingga 15.000 kaki dengan kecepatan jelajah 137 kilometer per jam dan maksimum 194 kilometer per jam, serta diluncurkan menggunakan katapel pneumatik atau booster roket.
Langkah produksi massal ini menunjukkan perubahan strategi militer AS yang semakin mengandalkan teknologi drone murah namun efektif untuk menghadapi ancaman modern, sekaligus mencerminkan kompetisi teknologi antara AS dan Iran dalam pengembangan sistem persenjataan nirawak. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan