Operasional dapur MBG di Landak dihentikan sementara setelah tujuh penerima manfaat mengalami gangguan pencernaan dan menunggu hasil uji laboratorium.
LANDAK – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Landak, Kalimantan Barat (Kalbar) untuk sementara dihentikan pada salah satu dapur distribusi setelah tujuh penerima manfaat mengalami gangguan pencernaan usai mengonsumsi makanan yang disalurkan.
Langkah penghentian operasional dilakukan pada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sengah Temila Sidas 2 sebagai upaya pencegahan dan investigasi menyeluruh terhadap dugaan penyebab gangguan kesehatan tersebut. Kebijakan ini tertuang dalam surat resmi Badan Gizi Nasional (BGN) tertanggal 17 Maret 2026.
Kepala Program MBG Region Kalimantan Barat (Kalbar) Agus Kurniawi menegaskan bahwa penghentian operasional dilakukan demi memastikan keamanan konsumsi bagi masyarakat.
“Operasional dapur SPPG Sengah Temila Sidas 2 kami hentikan sementara untuk proses investigasi menyeluruh, termasuk menunggu hasil uji laboratorium dari Dinas Kesehatan dan BPOM,” kata Agus, sebagaimana dilansir Detikkalimantan, Selasa (17/03/2026).
Ia menambahkan bahwa keselamatan penerima manfaat menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan program MBG.
“Jika ditemukan indikasi gangguan kesehatan yang berkaitan dengan konsumsi makanan MBG, maka penanganan langsung dilakukan dan distribusi dihentikan sementara sampai dipastikan aman,” ujarnya.
Berdasarkan kronologi di lapangan, kasus pertama dilaporkan pada Senin (16/03/2026) sekitar pukul 18.00 WIB, ketika seorang anak berusia 10 tahun mengalami mual dan muntah setelah mengonsumsi menu MBG yang dibawa dari sekolah. Gejala serupa kemudian dialami oleh beberapa anak lainnya, termasuk balita dan pelajar sekolah dasar, serta seorang ibu berusia 45 tahun yang turut mengonsumsi makanan tersebut.
Keluhan yang dialami korban umumnya berupa mual dan muntah, bahkan pada beberapa kasus terjadi hingga berulang kali. Dari hasil penelusuran awal, makanan yang dikonsumsi tidak disertai imbauan untuk dipanaskan kembali sebelum dikonsumsi.
Untuk memastikan penyebab kejadian, sampel makanan MBG telah dikirim ke laboratorium guna dilakukan pengujian oleh Dinas Kesehatan dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Agus menegaskan bahwa operasional dapur SPPG baru akan dibuka kembali setelah hasil pemeriksaan laboratorium menyatakan makanan aman dan seluruh standar keamanan pangan terpenuhi.
“Operasional baru akan dibuka kembali setelah hasil pemeriksaan menyatakan makanan aman dan seluruh prosedur keamanan pangan telah dipenuhi,” tegasnya.
Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan jika mengalami gejala serupa setelah mengonsumsi makanan dari program MBG, guna mempercepat penanganan dan mencegah meluasnya dampak.
Peristiwa ini menjadi perhatian penting dalam pelaksanaan program MBG, khususnya terkait pengawasan kualitas makanan dan standar keamanan pangan, agar tujuan peningkatan gizi masyarakat tetap berjalan tanpa menimbulkan risiko kesehatan. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan