PM Spanyol Kecam Israel, Larangan Ibadah Picu Sorotan Global

Kecaman PM Spanyol memperkuat tekanan internasional terhadap Israel atas larangan ibadah di Yerusalem.

MADRID – Pemerintah Spanyol melontarkan kecaman keras terhadap tindakan aparat keamanan Israel yang dinilai menghalangi kebebasan beragama, setelah Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, dicegah memasuki Gereja Makam Suci saat hendak memimpin Misa Minggu Palma.

Perdana Menteri (PM) Spanyol, Pedro Sanchez, menilai langkah tersebut sebagai tindakan tidak dapat dibenarkan yang mencederai prinsip dasar toleransi antarumat beragama. Dalam pernyataannya, ia secara langsung menyebut kebijakan tersebut tidak memiliki dasar yang jelas.

“Netanyahu telah mencegah umat Katolik merayakan Minggu Palma di tempat-tempat suci di Yerusalem. Tanpa penjelasan apapun, tanpa alasan atau pembenaran,” tulisnya di X, sebagaimana dilansir AFP, Senin, (30/03/2026).

Sanchez menegaskan bahwa Spanyol mendesak Israel untuk menghormati hak kebebasan beragama serta menjunjung tinggi hukum internasional. Ia juga menekankan pentingnya menjaga toleransi sebagai fondasi kehidupan bersama di tengah keberagaman.

“Kami mengutuk serangan yang tidak beralasan ini terhadap kebebasan beragama dan menuntut agar Israel menghormati keberagaman agama dan hukum internasional. Karena tanpa toleransi, hidup berdampingan tidak mungkin,” tambahnya.

Kecaman tersebut muncul setelah aparat Kepolisian Israel dilaporkan mencegah Kardinal Pierbattista Pizzaballa memasuki Gereja Makam Suci di Yerusalem saat hendak memimpin Misa Minggu Palma. Bersama Penjaga Tanah Suci, Romo Francesco Ielpo, ia dihentikan meski tidak sedang melakukan prosesi keagamaan.

Dalam keterangan resmi Patriarkat Latin Yerusalem disebutkan, “Pagi ini, Kepolisian Israel mencegah Patriark Latin Yerusalem, Yang Mulia Kardinal Pierbattista Pizzaballa, Kepala Gereja Katolik di Tanah Suci, bersama dengan Penjaga Tanah Suci, Yang Mulia Romo Francesco Ielpo, OFM, Penjaga resmi Gereja Makam Suci, memasuki Gereja Makam Suci di Yerusalem, saat mereka hendak merayakan Misa Minggu Palma,” sebagaimana diwartakan AFP, Minggu, (29/03/2026).

Patriarkat menilai insiden tersebut sebagai kejadian yang belum pernah terjadi dalam beberapa abad terakhir. “Akibatnya, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa abad, Kepala Gereja dicegah untuk merayakan Misa Minggu Palma di Gereja Makam Suci. Insiden ini merupakan preseden serius dan mengabaikan kepekaan miliaran orang di seluruh dunia, yang selama minggu ini, menantikan Yerusalem,” demikian pernyataan tersebut.

Hingga kini, belum ada tanggapan resmi dari pihak Kepolisian Israel. Namun, pembatasan aktivitas publik diketahui diberlakukan sejak meningkatnya konflik di kawasan Asia Barat pada 28 Februari 2026, termasuk pembatasan kegiatan keagamaan di sinagoge, gereja, dan masjid dengan jumlah peserta terbatas.

Akibat kebijakan tersebut, prosesi tradisional Minggu Palma dari Bukit Zaitun menuju Yerusalem yang biasanya diikuti ribuan umat juga dibatalkan.

Patriarkat menegaskan pihak gereja telah mematuhi seluruh ketentuan yang berlaku. “Para pemimpin gereja telah bertindak dengan penuh tanggung jawab dan, sejak awal perang, telah mematuhi semua pembatasan yang diberlakukan. Mencegah masuknya Kardinal dan Custos, yang memikul tanggung jawab gerejawi tertinggi untuk Gereja Katolik dan Tempat-Tempat Suci, merupakan tindakan yang jelas tidak masuk akal dan sangat tidak proporsional,” ujar Patriarkat.

Lebih lanjut, mereka menilai kebijakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap prinsip dasar kebebasan beribadah dan penghormatan terhadap status quo. “Keputusan yang tergesa-gesa dan pada dasarnya cacat ini, yang diwarnai oleh pertimbangan yang tidak tepat, merupakan penyimpangan ekstrem dari prinsip-prinsip dasar kewajaran, kebebasan beribadah, dan penghormatan terhadap status quo,” lanjut pernyataan tersebut.

Kecaman dari PM Spanyol ini memperluas tekanan internasional terhadap Israel, sekaligus menegaskan bahwa isu kebebasan beragama di kawasan Yerusalem kini menjadi perhatian global di tengah situasi konflik yang terus memanas. []

Penulis: Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com