Teheran mensyaratkan penghentian perang terhadap Iran serta berakhirnya konflik di Gaza dan Lebanon sebelum Selat Hormuz kembali dibuka.
TEHERAN – Iran memperketat syarat pembukaan kembali Selat Hormuz dengan mengaitkannya tidak hanya pada konflik Iran-Amerika Serikat (AS), tetapi juga penghentian perang di Jalur Gaza dan Lebanon. Posisi tersebut menunjukkan bahwa Teheran menjadikan jalur pelayaran strategis itu sebagai bagian dari tuntutan politik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Penegasan tersebut disampaikan Mohsen Rezaei, utusan Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei sekaligus sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, dalam pertemuan dengan Duta Besar China untuk Teheran Cong Peiwu pada Selasa. Pernyataan itu diberitakan SindoNews, Rabu (12/08/2026).
Rezaei mengatakan AS harus mengakhiri perang terhadap Iran dan mencairkan aset Iran yang dibekukan. Teheran juga meminta penghentian perang di wilayah lain, terutama di Jalur Gaza dan Lebanon. Selain itu, Iran disebut telah menyampaikan sejumlah persyaratan tambahan kepada AS melalui pihak perantara.
Sikap tersebut mempertegas bahwa pembukaan Selat Hormuz tidak semata-mata bergantung pada pengaturan lalu lintas kapal. Iran menilai persoalan jalur pelayaran itu berkaitan langsung dengan kondisi perang yang sedang berlangsung.
Menurut Rezaei, kemungkinan kesepakatan antara Iran dan Oman terkait pengaturan lalu lintas maritim di Selat Hormuz harus dipisahkan dari persoalan pembukaan selat secara keseluruhan. Dengan demikian, pembahasan teknis mengenai pelayaran tidak otomatis berarti Iran akan membuka kembali jalur strategis tersebut.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran (Kemenlu Iran) Esmail Baghaei sebelumnya juga menyampaikan posisi serupa. Ia menyebut penutupan Selat Hormuz merupakan respons Iran terhadap penggunaan jalur tersebut dalam serangan terhadap negaranya.
“Pembukaan kembali Selat Hormuz bergantung pada situasi dan syarat-syarat yang ditetapkan Iran,” ujar Baghaei.
Dia menambahkan, “Selama perang masih berlangsung, kami tidak akan mengizinkan pelintasan melalui selat tersebut.”
Iran dan Oman saat ini membahas pengaturan lalu lintas maritim melalui Selat Hormuz. Namun, Teheran berulang kali menegaskan pembahasan tersebut merupakan hubungan bilateral antara Iran dan Oman, bukan negosiasi langsung dengan AS.
Selat Hormuz memiliki posisi strategis bagi perdagangan energi dunia karena menjadi salah satu jalur utama pelayaran minyak. Karena itu, keputusan Iran mempertahankan penutupan selat berpotensi memberikan dampak lebih luas terhadap aktivitas pelayaran dan situasi ekonomi kawasan apabila berlangsung dalam waktu panjang.
Posisi terbaru Teheran sekaligus menunjukkan bahwa pembukaan Selat Hormuz masih bergantung pada perkembangan konflik dan terpenuhinya persyaratan yang diajukan Iran. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan