UEA menilai negara-negara Teluk gagal menunjukkan respons politik dan militer yang kuat meski menghadapi ancaman bersama dari eskalasi konflik Iran.
ABU DHABI – Kritik tajam dilontarkan pejabat senior Uni Emirat Arab (UEA) terhadap lemahnya respons politik dan militer negara-negara kawasan Teluk dalam menghadapi eskalasi konflik menyusul serangan balasan Iran, meski koordinasi logistik di antara mereka disebut tetap berjalan.
Penasihat kepresidenan UEA, Anwar Gargash, menilai solidaritas kawasan tidak tercermin dalam sikap strategis menghadapi ancaman bersama. Ia menyebut respons kolektif negara-negara Teluk justru berada pada titik terlemah dalam sejarah.
“Sikap GCC adalah yang paling lemah secara historis, mengingat sifat serangan dan ancaman yang ditimbulkannya bagi semua orang,” kata Gargash, merujuk pada Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) yang beranggotakan enam negara, sebagaimana dilansir AFP, Selasa, (28/04/2026).
Menurut Gargash, negara-negara anggota GCC memang saling memberikan dukungan logistik di tengah krisis yang dipicu serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran. Namun, ia menilai dukungan tersebut tidak diimbangi dengan langkah politik dan militer yang tegas serta terkoordinasi.
Situasi ini memperlihatkan adanya kesenjangan antara kesiapan teknis dan keberanian politik di antara negara-negara Teluk dalam merespons ancaman regional. Padahal, eskalasi konflik dinilai berpotensi berdampak luas terhadap stabilitas keamanan kawasan.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, yang melibatkan kekuatan besar dan berisiko memperluas konflik lintas negara. Kritik dari UEA ini diharapkan dapat mendorong evaluasi bersama di internal GCC guna memperkuat respons kolektif ke depan. []
Redaksi1
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan