salah satu foto anak keracunan MBG

61 Korban Keracunan, DPRD Kalsel Minta Sistem MBG Dibongkar Ulang

Dugaan keracunan massal akibat menu MBG di Amuntai mendorong DPRD Kalsel mendesak evaluasi menyeluruh terhadap standar pengolahan dan pengawasan makanan.

BANJARMASIN – Dorongan evaluasi menyeluruh terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kalimantan Selatan (Kalsel) menguat setelah dugaan keracunan massal yang menimpa puluhan siswa dan warga di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), memunculkan kekhawatiran serius terhadap standar keamanan pangan dalam pelaksanaannya.

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Selatan (Kalsel), Supian HK, menilai insiden tersebut harus menjadi momentum pembenahan total, khususnya pada sistem pengolahan makanan dan pengawasan dapur penyedia MBG di seluruh wilayah Kalsel.

“Saya minta standar kesehatan benar-benar dijaga. Cara memasak dan mengolahnya harus dievaluasi total agar memenuhi syarat medis,” tegas Supian HK, sebagaimana diberitakan Banua, Selasa (28/04/2026).

Ia menekankan bahwa persoalan dalam pelaksanaan MBG tidak hanya terjadi di Kalsel, melainkan juga di sejumlah daerah lain di Indonesia. Oleh karena itu, DPRD Kalsel mendorong keterlibatan publik untuk ikut mengawasi jalannya program tersebut.

Menurutnya, masyarakat maupun pihak sekolah perlu aktif melaporkan jika menemukan indikasi pelanggaran prosedur, bahkan tidak ragu memviralkannya selama disertai bukti yang valid.

“Tujuannya baik untuk gizi dan meringankan beban orang tua, tapi aspek kesehatan tetap yang utama,” lanjutnya.

Dugaan keracunan tersebut terjadi pada Kamis (23/04/2026) di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Amuntai, Kabupaten HSU, setelah siswa mengonsumsi menu MBG yang disuplai dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kecamatan Amuntai Tengah.

Tidak hanya siswa, sejumlah warga yang mengikuti kegiatan Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) di Kelurahan Antasari, Kecamatan Amuntai Tengah, juga mengalami gejala serupa setelah mengonsumsi makanan yang diduga berasal dari sumber yang sama.

Menu yang disajikan berupa mie yang menyerupai spageti. Setelah mengonsumsinya, para korban dilaporkan mengalami gejala pusing dan mual.

Akibat kejadian tersebut, sekitar 61 orang harus mendapatkan penanganan medis di Rumah Sakit (RS) Mulia Amuntai. Dari jumlah itu, sebanyak 19 orang masih menjalani observasi, sementara lainnya telah dipulangkan.

Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Kabupaten HSU, Moch Yandi Friyadi, melalui Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2), Fajeri, menyatakan pihaknya masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut.

“Kami tunggu hasil laboratorium. Mereka akan memeriksa sampel makanannya,” ujarnya.

Insiden ini menjadi perhatian serius berbagai pihak karena program MBG yang bertujuan meningkatkan gizi anak justru berpotensi menimbulkan risiko kesehatan jika tidak diawasi secara ketat. Evaluasi menyeluruh diharapkan mampu memperbaiki sistem agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com