WASHINGTON DC – Badan intelijen Amerika Serikat (AS) tengah melakukan kajian mendalam terhadap kemungkinan respons Iran apabila Presiden AS Donald Trump secara sepihak mengumumkan kemenangan dalam konflik yang telah berlangsung selama dua bulan, di tengah meningkatnya kekhawatiran atas dampak politik perang tersebut di dalam negeri AS.
Kajian ini dilakukan oleh komunitas intelijen AS atas permintaan pejabat senior pemerintahan, yang menilai situasi perang saat ini berpotensi memberikan tekanan besar terhadap stabilitas politik Gedung Putih, terutama menjelang agenda politik domestik yang semakin dekat.
Sejumlah sumber yang mengetahui proses tersebut menyebutkan bahwa analisis tidak hanya berfokus pada potensi reaksi Iran, tetapi juga mencakup skenario penarikan diri AS dari konflik yang dinilai dapat mengubah peta geopolitik kawasan secara signifikan.
“Perang ini menjadi beban politik bagi Gedung Putih,” demikian dikutip dari keterangan dua pejabat AS yang enggan disebutkan namanya serta seorang sumber yang mengetahui persoalan tersebut, sebagaimana dilansir Sumber Berita, Rabu, (29/04/2026).
Kajian tersebut juga menyoroti kekhawatiran sejumlah pejabat dan penasihat Gedung Putih bahwa keputusan sepihak terkait deklarasi kemenangan atau penarikan pasukan dapat berdampak pada persepsi publik terhadap pemerintahan saat ini, bahkan berpotensi memengaruhi hasil politik Partai Republik dalam pemilu sela mendatang.
Para analis intelijen disebut sedang mengevaluasi berbagai skenario eskalasi maupun deeskalasi konflik, termasuk kemungkinan langkah balasan Iran yang dapat memperluas ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Langkah ini menunjukkan bahwa dimensi perang tidak hanya dipandang dari aspek militer, tetapi juga memiliki implikasi politik domestik yang signifikan bagi AS, terutama dalam menjaga stabilitas dukungan publik terhadap kebijakan luar negeri pemerintah. []
Redaksi1
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan