Turunan Curam Jembatan Bromo Ancam Keselamatan Warga Pulau Bromo

Warga Pulau Bromo meminta Pemko Banjarmasin mengevaluasi turunan curam Jembatan Bromo karena dinilai sering memicu kecelakaan dan mempercepat kerusakan kendaraan.

BANJARMASIN – Turunan curam Jembatan Bromo di Pulau Bromo, Kelurahan Mantuil, Kecamatan Banjarmasin Selatan, Kota Banjarmasin, dikeluhkan warga karena dinilai tidak hanya memicu kecelakaan, tetapi juga menambah beban ekonomi akibat kendaraan lebih cepat rusak.

Keluhan itu disampaikan warga Pulau Bromo setelah sejumlah pengendara disebut menjadi korban saat melintasi turunan jembatan tersebut, terutama ketika hujan membuat permukaan jalan licin. Kondisi ini membuat warga meminta Pemerintah Kota (Pemko) Banjarmasin mengevaluasi konstruksi turunan jembatan agar risiko kecelakaan dapat ditekan.

“Cuma yang sangat disesali ya ini turunannya terlalu curam sehingga sering kali terjadi kecelakaan,” ujar Ketua Rukun Tetangga (RT) 06, Widodo, sebagaimana diberitakan Banjarmasin Post, Kamis, (07/05/2026).

Menurut warga, sejumlah pengendara pernah terjatuh saat melewati turunan Jembatan Bromo. Sebagian korban disebut mengalami patah tulang, sementara kendaraan yang digunakan mengalami kerusakan cukup parah.

“Jelas kalau hujan sangat berbahaya sekali,” tambahnya.

Jembatan gantung sepanjang 100 meter di atas Sungai Martapura itu memiliki bentuk melingkar yang menyerupai roller coaster. Dari arah luar, jalur berputar tersebut langsung mengarah ke kawasan permukiman Pulau Bromo.

Warga menilai desain turunan curam seharusnya berada di sisi luar yang langsung terhubung dengan jalan utama, bukan mengarah ke permukiman. Dengan begitu, risiko terhadap warga dan pengguna jalan di kawasan Pulau Bromo dapat berkurang.

“Seharusnya yang turunan curam seperti ini di seberang sana, jadi lingkaran di seberang sana itu yang harusnya di sini. Karena turunan ini kalau di sana langsung ke jalan utama,” jelas Widodo.

Jembatan Bromo dibangun pada pertengahan 2020 dan diresmikan pada Januari 2021 oleh Wali Kota Banjarmasin. Sebelum jembatan itu dibangun, warga Pulau Bromo harus menggunakan feri penyeberangan untuk beraktivitas.

Meski keberadaan jembatan tersebut dinilai sangat membantu mobilitas warga sekaligus menjadi ikon ekowisata Banjarmasin Selatan, aspek keselamatan tetap menjadi perhatian utama masyarakat.

“Sangat bermanfaat, saya terima kasih sekali dengan pemko dengan adanya jembatan ini, cuma kalau bisa diperhatikan lah turunan curam ini untuk bisa dibenahi, agar tidak ada lagi korban kecelakaan,” ujar Widodo.

Selain mengancam keselamatan, turunan curam Jembatan Bromo juga disebut berdampak pada biaya perawatan kendaraan warga. Kampas rem sepeda motor disebut lebih cepat aus karena dipaksa bekerja keras saat melewati turunan tersebut setiap hari.

“Kita masyarakat memanfaatkan jembatan semaksimal mungkin dengan keadaan turunan seperti ini. Karena ini satu-satunya jalan masyarakat untuk aktivitas sehari-hari,” kata Wakil Ketua RT 06, Rasidi.

Rasidi mengatakan, banyak warga mengeluhkan kondisi turunan jembatan tersebut. Menurut dia, persoalan menjadi semakin berisiko karena tidak semua kendaraan warga berada dalam kondisi prima.

“Kendaraan masyarakat kan tidak semuanya bagus, ada juga kendaraan sudah lama, mungkin remnya kurang sudah, tapi tetap turunan ini yang bahaya,” ujar Rasidi.

Warga berharap Pemko Banjarmasin dapat membenahi konstruksi turunan Jembatan Bromo dengan mengurangi derajat kemiringannya. Perbaikan itu dinilai penting agar jembatan tetap bermanfaat bagi mobilitas warga tanpa menimbulkan ancaman keselamatan dan beban tambahan bagi masyarakat.

“Kami meminta kemiringan ini ada berapa derajat mungkin bisa diubah agar lebih mengurangi kecelakaan dari pengguna jalan,” harap Rasidi. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com