Takhta dan Aset Kerajaan Thailand Disorot Usai Putri Bha Wafat

Wafatnya Putri Bha membuat isu suksesi takhta dan pengelolaan kekayaan Kerajaan Thailand kembali menjadi perhatian publik.

BANGKOK – Wafatnya Putri Thailand Bajrakitiyabha Narendira Mahidol atau Putri Bha membuka kembali pertanyaan besar mengenai arah suksesi takhta sekaligus pengelolaan kekayaan Kerajaan Thailand yang selama ini menjadi sorotan publik.

Putri Bha meninggal dunia pada usia 47 tahun, Jumat (12/06/2026), setelah menjalani perawatan di rumah sakit kerajaan selama hampir empat tahun. Kabar wafatnya putri Raja Thailand Maha Vajiralongkorn itu kembali menempatkan isu pewaris takhta dan aset monarki dalam perhatian publik, sebagaimana diberitakan Cnn Indonesia, Jumat (12/06/2026).

Putri Bha merupakan satu-satunya anak Raja Vajiralongkorn dari pernikahannya dengan istri pertama, Soamsawali. Selama ini, ia disebut banyak kalangan sebagai salah satu figur yang paling berpeluang dalam garis suksesi, meski Raja Vajiralongkorn belum pernah menetapkan secara resmi penerus takhtanya.

Wafatnya Putri Bha dinilai memperumit peta suksesi monarki Thailand. Selain karena belum adanya keputusan resmi mengenai pewaris takhta, kehidupan keluarga kerajaan juga kerap menjadi perhatian setelah Raja Vajiralongkorn menikah empat kali dan memiliki tujuh anak.

Sorotan terhadap suksesi itu tidak dapat dilepaskan dari besarnya kekayaan kerajaan. Raja Vajiralongkorn disebut memiliki kekayaan sekitar 43 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp767 triliun hingga 70 miliar dolar AS atau sekitar Rp1.249 triliun, berdasarkan kurs Rp17.852 per dolar AS per 12 Juni 2026.

Salah satu sumber utama kekayaan tersebut berkaitan dengan Biro Properti Mahkota atau Crown Property Bureau (CPB). Lembaga itu dikenal sebagai salah satu pengelola aset kerajaan terbesar di dunia, termasuk tanah, saham, dan berbagai properti strategis di Thailand.

CPB disebut memiliki pengaruh luas dalam perekonomian Thailand. Lembaga itu juga menjadi pemilik tanah terbesar di Thailand serta memegang saham besar di Siam Commercial Bank (SCB) dan Siam Cement Company (SCC).

Selain saham dan tanah, keluarga kerajaan Thailand disebut memiliki lebih dari 16.210 hektare lahan, puluhan ribu kontrak sewa, ribuan properti di Bangkok, ratusan mobil mewah, puluhan jet pribadi, hingga berlian Golden Jubilee yang dikenal sebagai salah satu berlian potong terbesar di dunia.

Setelah naik takhta pada 2016, Raja Vajiralongkorn memindahkan kepemilikan CPB menjadi milik pribadi. Kebijakan itu membuat kendali raja terhadap aset kerajaan semakin besar dan sempat memicu desakan publik agar pengelolaan kekayaan monarki dilakukan lebih transparan.

Akademisi Thailand Porphant Ouyyanont dalam makalah yang dirilis Institute of Southeast Asian Studies (ISEAS) pada 2015 menilai CPB memiliki pengaruh besar terhadap ekonomi Thailand.

“[Biro Properti Mahkota] memasuki hampir setiap bidang penting dalam kehidupan ekonomi Thailand,” kata Porphant.

Isu kekayaan kerajaan juga pernah menjadi salah satu objek protes warga Thailand pada Agustus 2020. Saat itu, demonstran menuntut transparansi aset monarki dan meminta sebagian aset dikembalikan ke pengawasan negara.

Dengan wafatnya Putri Bha, perhatian publik kini tidak hanya tertuju pada duka keluarga kerajaan, tetapi juga pada masa depan suksesi takhta dan arah pengelolaan aset monarki Thailand ke depan. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com